Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 17 April 2026 | Spekulasi mengenai perombakan kabinet atau reshuffle kembali mengemuka menjelang satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Berbagai nama menteri menjadi perbincangan publik, dan media melaporkan bahwa rencana tersebut dapat menyasar lebih dari lima kementerian strategis, termasuk keuangan, dalam rangka mempercepat pencapaian target pembangunan nasional.
Dalam pernyataan yang disampaikan di Kompleks Parlemen Senayan pada Kamis, 16 April 2026, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Herman Khaeron menegaskan bahwa keputusan mengenai reshuffle sepenuhnya merupakan hak prerogatif Presiden. “Kalau masalah reshuffle kita serahkan kepada Presiden, ya, karena bagaimanapun seluruhnya itu adalah otoritas dan hak prerogatifnya Presiden,” ujarnya. Herman menambahkan bahwa Partai Demokrat akan mendukung keputusan Presiden demi kelancaran kerja pemerintahan, sehingga fokus tetap pada penyelesaian program pembangunan tanpa gangguan politik.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, mengaku belum menerima informasi resmi terkait rencana tersebut. “Saya tidak tahu, itu kan wewenang Presiden. Nanti tergantung Presiden merenung, perlu tidak ya reshuffle ya, gitu,” jelas Sarmuji di kompleks Parlemen pada hari yang sama. Ia juga menyebut belum berdiskusi dengan Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, yang baru saja mendampingi Presiden dalam kunjungan luar negeri ke Rusia dan Prancis.
Kepala Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, memberikan respons singkat kepada wartawan di Istana Kepresidenan pada Selasa, 7 April 2026. “Tunggu saja,” jawabnya tanpa memberikan detail lebih lanjut. Ia menegaskan kembali bahwa keputusan akhir berada di tangan Presiden, dan publik diharapkan menunggu pengumuman resmi.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Puan Maharani, juga menanggapi isu tersebut dengan pernyataan tegas, “Hak prerogatif Presiden, silakan tanya ke Istana,” menegaskan kembali batas kewenangan legislatif dalam urusan pembentukan kabinet.
Sejumlah faktor menjadi latar belakang munculnya kembali isu reshuffle. Pertukaran posisi antara Thomas Djiwandono yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan dengan Juda Agung yang kini menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia menimbulkan pertanyaan tentang dinamika internal pemerintahan. Selain itu, rencana reshuffle sebelumnya sempat dibicarakan pada akhir tahun 2025, dengan target pelaksanaan pada Januari setelah lawatan Presiden ke Inggris. Namun, hingga kini tidak ada konfirmasi resmi.
Berikut adalah beberapa poin penting yang menjadi fokus pembahasan publik:
- Target penyusunan kembali kementerian yang diperkirakan melibatkan lebih dari lima kementerian utama.
- Penekanan pada stabilitas ekonomi dan percepatan program infrastruktur.
- Kebutuhan untuk menyesuaikan kebijakan dengan tantangan global pasca‑pandemi.
- Pengaruh dinamika partai politik dalam mendukung atau menolak langkah reshuffle.
Para pengamat politik menilai bahwa keputusan Presiden Prabowo akan sangat dipengaruhi oleh evaluasi kinerja menteri selama setahun pertama, serta tekanan dari koalisi pemerintahan yang meliputi partai-partai besar seperti PDIP, Golkar, dan Demokrat. Meskipun demikian, semua pihak tampak sepakat bahwa proses reshuffle harus dilaksanakan dengan transparansi dan mempertimbangkan kepentingan nasional.
Kesimpulannya, spekulasi mengenai reshuffle kabinet tetap menggantung, dengan pernyataan tegas dari elite partai politik yang menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Presiden. Publik dan media diharapkan menunggu pengumuman resmi dari Istana Kepresidenan untuk mengetahui langkah selanjutnya dalam rangka memperkuat pemerintahan Prabowo Subianto.











