Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 01 Juni 2026 | Thai Lion Air, salah satu maskapai penerbangan terkemuka di Asia Tenggara, menghadapi tantangan besar akibat biaya bahan bakar yang melambung. Maskapai ini memutuskan untuk mengurangi rute penerbangan pada lebih dari 15 rute, termasuk rute Phuket-Singapura, dari Juni hingga September.
Keputusan ini diambil karena biaya bahan bakar yang melambung akibat ketegangan di Timur Tengah. Harga bahan bakar Jet A-1 telah meningkat dua hingga tiga kali lipat dari harga sebelum konflik, dari sekitar $80 per barel menjadi lebih dari $240 per barel. Ini menambah tekanan pada biaya operasional maskapai, karena bahan bakar biasanya menyumbang sekitar 30% dari biaya setiap penerbangan.
Rute yang terkena dampak termasuk penerbangan internasional ke China, Jepang, India, Indonesia, Singapura, dan Nepal. Maskapai ini juga mengumumkan perubahan sementara pada beberapa rute lainnya, termasuk pengurangan frekuensi penerbangan pada rute domestik.
Penumpang dengan rencana perjalanan disarankan untuk memeriksa detail penerbangan langsung dengan Thai Lion Air, karena perubahan lebih lanjut mungkin dilakukan tergantung pada harga bahan bakar dan permintaan perjalanan.
Kenaikan biaya bahan bakar ini tidak hanya mempengaruhi Thai Lion Air, tetapi juga maskapai penerbangan lainnya di seluruh dunia. Industri penerbangan saat ini menghadapi tantangan besar dalam menghadapi biaya bahan bakar yang melambung, sehingga maskapai harus melakukan penyesuaian untuk mengurangi biaya dan mempertahankan keuntungan.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri penerbangan telah mengalami pertumbuhan yang cepat, namun kenaikan biaya bahan bakar ini dapat memperlambat pertumbuhan tersebut. Oleh karena itu, maskapai penerbangan harus terus berinovasi dan mencari cara untuk mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi operasional.











