Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 15 Juli 2026 | Penawaran umum perdana (IPO) di Asia Tenggara mengalami peningkatan pada semester I 2026. Malaysia menjadi pasar utama untuk IPO di Asia Tenggara dengan 36 pencatatan saham, menghimpun dana sebesar US$ 1,3 miliar atau Rp 23,50 triliun.
Secara total, Asia Tenggara mencatat 47 IPO di seluruh wilayah pada paruh pertama 2026, dengan total dana yang dihimpun lebih dari US$ 3,07 miliar atau Rp 55,52 triliun. Jumlah ini meningkat dari semester pertama 2025 sebesar 53 IPO dengan perolehan dana yang dihimpun US$ 1,41 miliar atau Rp 25,50 triliun.
Laporan Deloitte menyoroti pasar IPO Asia Tenggara yang tangguh dan terus menarik pencatatan saham yang lebih besar, dan berkualitas tinggi meskipun terjadi moderasi dalam volume IPO secara keseluruhan. Laporan itu mencatat pasar menunjukkan pergeseran signifikan ke arah transaksi lebih besar.
Dibandingkan paruh pertama 2025, perolehan IPO 2026 naik 117%. Rata-rata transaksi IPO tumbuh 2,5 kali lipat dari US$ 26 juta atau Rp 470,23 miliar menjadi US$ 65 juta atau Rp 1,17 triliun.
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) terus memperkuat daya saing pasar modal Indonesia. Salah satunya melalui kerja sama strategis dengan Hong Kong Exchanges and Clearing Limited (HKEx) untuk memperkaya pilihan instrumen investasi serta membantu emiten domestik memperluas akses ke investor pasar global.
BEI juga menjajaki kerja sama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) untuk mendorong perusahaan-perusahaan di industri kreatif melantai di pasar modal. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas diversifikasi sektor emiten yang melakukan penawaran umum perdana saham (IPO).
Beberapa emiten telah merealisasikan penggunaan dana IPO, seperti PT Avia Avian Tbk (AVIA) yang telah memakai mayoritas dana IPO untuk kebutuhan modal kerja. AVIA telah merealisasikan penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar Rp 5,509 triliun atau sekitar 97,58% dari total dana bersih IPO senilai Rp 5,646 triliun.
Dengan demikian, dana IPO yang masih tersisa mencapai Rp 136,761 miliar dan untuk sementara ditempatkan pada sejumlah perbankan. Perseroan telah mengalokasikan dana sebesar Rp 2,979 triliun atau sekitar 52,77% sebagai modal kerja perusahaan.
Penawaran umum perdana di Asia Tenggara diprediksi akan terus meningkat, dengan Malaysia sebagai pasar utama. BEI terus memperkuat daya saing pasar modal Indonesia melalui kerja sama strategis dengan HKEx dan Kemenekraf. Beberapa emiten telah merealisasikan penggunaan dana IPO, dan dana yang masih tersisa ditempatkan pada sejumlah perbankan.











