Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 17 April 2026 | Video mahasiswa jurusan Tambang Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menampilkan Orkes Semi Dangdut (OSD) Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) menyanyikan lagu berjudul “Erika” kembali viral pada awal April 2026. Lirik yang dinilai vulgar dan mengandung unsur pelecehan terhadap perempuan memicu protes luas di media sosial, mengingat meningkatnya sensitivitas publik terhadap isu pelecehan seksual di lingkungan akademik.
OSD HMT ITB merupakan unit kegiatan seni musik yang telah eksis sejak akhir 1970-an. Pada masa itu, orkes tersebut menciptakan berbagai lagu yang mengusung genre semi dangdut dengan sentuhan humor dan satire, menyoroti kehidupan kampus, percintaan, dan dinamika sosial mahasiswa. Di antara karya mereka, lagu “Anissa”, “25 Karat”, dan “Erika” menjadi yang paling dikenal. “Erika” sendiri diperkirakan ditulis pada era 1980-an, namun video penampilannya yang beredar pada tahun 2020 dan kembali muncul di 2026 mengangkat kembali kontroversi lama.
Berikut beberapa potongan lirik yang menjadi sorotan publik: “Oh goyang Erika luar biasa, Oh lebar pinggulnya hampir sedepa, Bila disenggolnya celana pasti terbuka.” Banyak netizen menilai frasa tersebut menyinggung martabat perempuan, tidak sesuai dengan norma kesusilaan masa kini, serta memperkuat stereotip objektifikasi gender. Kritik semakin keras ketika video tersebut tersebar di platform media sosial pada saat kasus-kasus pelecehan seksual di kampus lain, seperti grup chat mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia, menjadi sorotan nasional.
Pihak HMT ITB merespons dengan mengeluarkan pernyataan resmi melalui akun Instagram resmi mereka pada 15 April 2026. Dalam pernyataan tersebut, mereka menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat dan menegaskan bahwa konten tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung oleh organisasi maupun institusi ITB. Mereka juga mengakui bahwa menampilkan lagu lama tanpa mempertimbangkan perkembangan norma sosial merupakan kelalaian.
Pernyataan resmi mencakup lima poin utama: (1) permohonan maaf dan empati kepada publik, khususnya perempuan; (2) penegasan sejarah OSD HMT ITB yang telah ada sejak 1970-an dan pembuatan lagu “Erika” pada 1980-an; (3) pengakuan bahwa konten tidak mencerminkan nilai akademik dan kemahasiswaan; (4) tindakan penarikan (take down) video dan audio dari kanal resmi serta akun individu yang terkait; (5) evaluasi internal komprehensif terhadap standar, pedoman, dan pengawasan konten seni organisasi.
ITB selaku institusi juga mengeluarkan pernyataan yang menegaskan komitmen untuk memperbaiki etika kampus. Pihak universitas menyatakan akan melakukan koordinasi dengan HMT ITB untuk memastikan tidak ada lagi materi yang melanggar norma kesusilaan. Selain itu, ITB berjanji akan meninjau kembali kebijakan organisasi mahasiswa terkait produksi konten kreatif, termasuk prosedur persetujuan dan review etik sebelum publikasi.
Reaksi publik tidak hanya terbatas pada media sosial. Beberapa organisasi perempuan dan lembaga hak asasi manusia menuntut agar ITB mengimplementasikan kebijakan anti‑pelecehan yang lebih tegas, serta memberikan edukasi gender bagi seluruh mahasiswa. Mereka menyoroti pentingnya menumbuhkan budaya kampus yang inklusif dan menghormati keberagaman.
Dalam konteks sejarah, OSD HMT ITB memang pernah menjadi sarana ekspresi kreatif mahasiswa pertambangan, namun pergeseran nilai sosial selama empat dekade terakhir menuntut penyesuaian. Lagu-lagu yang dulu dianggap sekadar hiburan ringan kini harus diinterpretasikan kembali dalam kerangka etika modern. Hal ini menegaskan pentingnya dialog antar generasi dalam organisasi kemahasiswaan, agar tradisi tidak menjadi pembawa pesan yang menyinggung atau merugikan kelompok tertentu.
Secara keseluruhan, kasus “Erika” menjadi titik tolak bagi ITB dan organisasi mahasiswanya untuk mengevaluasi kembali praktik seni dan budaya kampus. Langkah-langkah konkret yang diambil—seperti penarikan konten, permohonan maaf publik, dan evaluasi internal—menunjukkan upaya memperbaiki citra serta menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial saat ini. Namun, keberlanjutan perubahan akan sangat bergantung pada implementasi kebijakan baru dan komitmen jangka panjang semua pihak terkait.
Ke depan, mahasiswa, dosen, dan administrasi ITB diharapkan dapat bekerja sama menciptakan lingkungan akademik yang bebas dari konten yang merendahkan, sekaligus tetap menjaga ruang kreativitas yang sehat dan bertanggung jawab.











