Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 04 Mei 2026 | Na Daehoon, mantan suami Julia Prastini (Jule), mengumumkan langkah hukum terhadap Safrie Ramadhan setelah serangkaian insiden yang melibatkan anak-anak mereka menjadi sorotan publik. Daehoon menegaskan bahwa hak asuh penuh tetap berada di tangannya berdasarkan putusan perceraian yang telah berkekuatan hukum tetap, namun ia membuka akses kepada ibu kandung selama tidak mengganggu perkembangan anak.
Ketegangan bermula ketika Jule dan Safrie mengunggah video serta foto anak mereka dengan produk kosmetik dewasa, menimbulkan pertanyaan etis tentang perlindungan anak di era digital. Daehoon menilai tindakan tersebut melampaui batas, menyebutnya sebagai “konten tidak pantas” yang dapat merusak martabat anak serta menurunkan citra ayahnya.
Dalam pernyataan yang diposting di Instagram pada 4 Mei 2026, Daehoon menulis, “Sebagai ayah, saya memiliki kewajiban melindungi anak-anak dari eksposur yang dapat membahayakan kesehatan mental mereka.” Ia menambahkan rencananya akan mengajukan gugatan perdata terhadap pihak-pihak yang dinilai menyebarkan fitnah, menggiring opini publik, atau menggunakan buzzer untuk menyerang nama baiknya.
Safrie Ramadhan, yang dikenal sebagai figur publik di bidang hiburan, membela diri dengan menyatakan bahwa konten yang dibuat bersifat edukatif dan tidak dimaksudkan untuk mengekploitasi anak. Namun, Daehoon menolak argumen tersebut dan menekankan bahwa persetujuan anak dalam proses pembuatan konten belum tentu mencerminkan pemahaman mereka akan konsekuensi jangka panjang.
Berikut beberapa poin utama yang diangkat Daehoon dalam pernyataannya:
- Penggunaan produk kosmetik dewasa pada anak di media sosial.
- Keterlibatan anak dalam candaan atau sketsa yang dapat merendahkan martabat mereka.
- Penyebaran informasi yang dianggap fitnah terhadap dirinya.
- Penggunaan buzzer untuk mempengaruhi opini publik.
Daehoon menegaskan bahwa pembatasan akses anak kepada mantan istri tidak bersifat emosional atau dendam, melainkan demi menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan terhindar dari pengaruh negatif. Ia menambahkan, “Saya tidak ingin memperpanjang konflik di ruang publik, tetapi saya tidak akan diam jika nama baik saya dan kesejahteraan anak terus diserang.”
Perceraian Daehoon dan Jule resmi terjadi pada akhir 2025, dengan latar belakang kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga yang menjadi faktor utama perpisahan. Sejak saat itu, hubungan antara Daehoon dengan mantan istrinya menjadi tegang, terutama terkait hak asuh dan interaksi dengan anak.
Para pengamat hukum menilai bahwa langkah Daehoon untuk menempuh jalur hukum dapat menjadi preseden penting dalam menegakkan perlindungan anak di media sosial. Mereka mencatat bahwa undang-undang Indonesia tentang perlindungan anak masih dalam proses penguatan, dan kasus ini dapat mempercepat pembahasan regulasi yang lebih ketat.
Di sisi lain, netizen terbagi antara yang mendukung Daehoon sebagai ayah yang melindungi hak asuh dan yang menilai Safrie Ramadhan hanya ingin berbagi momen kebersamaan keluarga. Diskusi online terus berlanjut, menyoroti pentingnya edukasi digital bagi orang tua dan publik dalam mengelola konten yang melibatkan anak.
Jika proses hukum berjalan, kemungkinan besar akan melibatkan analisis psikologis anak, verifikasi izin penggunaan produk, serta penilaian dampak media sosial terhadap perkembangan mereka. Keputusan pengadilan nantinya dapat menjadi acuan bagi kasus serupa di masa depan.
Secara keseluruhan, perseteruan antara Na Daehoon dan Safrie Ramadhan mencerminkan dinamika kompleks antara hak asuh, etika konten, dan tanggung jawab publik figur dalam melindungi generasi muda. Konflik ini belum berakhir, dan semua pihak diharapkan dapat menemukan solusi yang mengutamakan kesejahteraan anak di atas kepentingan pribadi maupun eksposur media.











