Ekonomi

BI Genjot Kredit Pinisi, Superbank (SUPA) Soroti Permintaan Lesu di Tengah Laba Bank Jumbo

×

BI Genjot Kredit Pinisi, Superbank (SUPA) Soroti Permintaan Lesu di Tengah Laba Bank Jumbo

Share this article
BI Genjot Kredit Pinisi, Superbank (SUPA) Soroti Permintaan Lesu di Tengah Laba Bank Jumbo
BI Genjot Kredit Pinisi, Superbank (SUPA) Soroti Permintaan Lesu di Tengah Laba Bank Jumbo

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 01 Mei 2026 | Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan komitmen mempercepat penyaluran kredit melalui platform digital Pinisi, sebuah inisiatif yang dirancang untuk menghubungkan likuiditas perbankan dengan kebutuhan usaha produktif. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi kesenjangan kredit di sektor UMKM dan infrastruktur, sekaligus menstimulasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, dalam minggu pertama peluncuran, Superbank (SUPA) melaporkan bahwa permintaan kredit masih belum menunjukkan kenaikan signifikan. Menurut data internal SUPA, aplikasi kredit baru hanya meningkat 2,3% dibandingkan periode sebelumnya, jauh di bawah ekspektasi para analis. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas platform Pinisi dalam mengatasi hambatan permintaan yang masih lesu di tengah dinamika pasar yang berubah.

Sementara itu, laporan keuangan kuartal I 2026 dari empat bank kategori KBMI IV – Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Negara Indonesia (BNI) – menunjukkan laba bersih yang solid meskipun pertumbuhan intermediasi tidak seragam. BRI mencatat laba Rp15,63 triliun dengan pertumbuhan kredit agresif 13,9% yoy, sedangkan BCA mencatat laba Rp14,69 triliun dengan pertumbuhan kredit hanya 5,6% yoy. Bank Mandiri justru mengalami kontraksi kredit sebesar 5,9% yoy, menandakan adanya tekanan pada permintaan kredit di sektor tertentu.

Bank Laba (Triliun Rp) Pertumbuhan Kredit YoY
BRI 15,63 +13,9%
BNI 5,68 +20,1%
BCA 14,69 +5,6%
BMRI 16,21 -5,9%

Direktur Riset Core Indonesia, Etika Karyani Suwondo, menilai bahwa pertumbuhan laba yang kuat di tengah melambatnya penyaluran kredit mengindikasikan potensi inefisiensi fungsi intermediasi. Ia menyatakan bahwa sebagian laba mungkin dipicu oleh penempatan dana pada instrumen bebas risiko seperti Surat Berharga Negara (SBN) atau SRBI, alih-alih disalurkan ke sektor riil yang membutuhkan dukungan modal.

Strategi BCA yang lebih konservatif, dengan fokus pada likuiditas tinggi dan CASA (Current Account Savings Account) yang kuat, menjadi contoh pendekatan yang menahan pertumbuhan kredit demi menjaga kualitas aset. BCA mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 8,3% yoy dan CASA naik 11,2% yoy, mencerminkan strategi likuiditas yang agresif.

Di sisi lain, BRI dan BNI memperlihatkan ekspansi kredit yang lebih dinamis, didorong oleh kebutuhan pembiayaan infrastruktur dan usaha produktif. BNI bahkan mencatat lonjakan DPK sebesar 34,3% yoy, menandakan aliran dana yang signifikan menuju sektor perbankan.

Analisis senior di Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji, menegaskan bahwa dukungan kebijakan pemerintah, termasuk penurunan suku bunga acuan sepanjang 2025, membantu menekan biaya dana sehingga margin bunga tetap terjaga. Namun, ia memperingatkan bahwa risiko eksternal seperti nilai tukar rupiah yang melemah dan volatilitas harga minyak dunia dapat menambah tekanan pada profil risiko perbankan.

Superbank (SUPA), yang baru saja mengintegrasikan platform Pinisi dalam sistem kreditnya, mengakui bahwa meski infrastruktur digital sudah siap, faktor permintaan masih dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi. Indeks PMI yang mendekati batas ekspansi dan penurunan indeks menabung masyarakat menurunkan daya beli, sehingga pelaku usaha menunda pengajuan kredit baru.

Untuk mengatasi tantangan ini, BI berencana menambah insentif bagi bank yang menyalurkan kredit produktif melalui Pinisi, termasuk penurunan biaya likuiditas bagi kredit dengan tenor menengah hingga panjang. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan minat bank untuk mempercepat penyaluran, sekaligus memberikan manfaat bagi nasabah yang membutuhkan pembiayaan jangka panjang.

Secara keseluruhan, meskipun laba bank-bank besar terus menguat, pertumbuhan kredit masih menghadapi hambatan permintaan yang lemah. Keberhasilan platform Pinisi dalam meningkatkan aliran kredit akan sangat bergantung pada kemampuan bank, termasuk SUPA, untuk mengatasi faktor-faktor makroekonomi yang menahan permintaan serta mengoptimalkan likuiditas yang tersedia.

Dengan kebijakan yang tepat dan sinergi antara regulator, perbankan, dan platform digital, diharapkan kredit Pinisi dapat menjadi katalisator utama dalam menggerakkan ekonomi riil Indonesia ke arah pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *