Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 01 Mei 2026 | Menhan Sjafrie menggelar pertemuan khusus di Kementerian Pertahanan pada Senin (30 April 2024) dengan mengundang sejumlah mantan panglima TNI serta jenderal aktif. Acara ini dimaksudkan untuk menyusun kebijakan strategis yang menempatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) Komcad sebagai pilar utama dalam memperkuat kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam sambutannya, Menhan Sjafrie menekankan pentingnya sinergi antara dunia militer dan sipil dalam menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks. Ia menegaskan bahwa pengalaman para mantan panglima dan jenderal aktif sangat berharga untuk mengoptimalkan peran ASN Komcad, khususnya dalam bidang pertahanan siber, intelijen strategis, dan kesiapsiagaan operasional.
Daftar peserta yang hadir meliputi:
- Jenderal (Purn) Wiranto – Mantan Panglima TNI dan mantan Menteri Pertahanan.
- Jenderal Andika Perkasa – Panglima TNI yang sedang menjabat.
- Jenderal (Purn) Moeldoko – Mantan Panglima TNI dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan.
- Jenderal (Purn) Agus Subiyanto – Mantan Kepala Staf Angkatan Darat.
- Jenderal (Aktif) Maruli Simanjuntak – Komandan Komando Operasi Militer IX.
- Jenderal (Purn) Hendropriyono – Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).
Pertemuan tersebut dibagi menjadi tiga sesi utama. Sesi pertama berfokus pada evaluasi capaian program Komcad selama dua tahun terakhir, termasuk penempatan tenaga ahli di unit-unit strategis Kementerian Pertahanan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sesi kedua membahas skenario ancaman baru, seperti serangan siber lintas batas, perang informasi, dan konflik maritim di Laut Natuna. Sesi ketiga ditujukan untuk merumuskan rekomendasi konkret, termasuk peningkatan pelatihan teknis, pembentukan unit reserse strategis, dan mekanisme koordinasi lintas lembaga yang lebih efisien.
Menhan Sjafrie menyoroti bahwa ASN Komcad bukan sekadar cadangan administratif, melainkan tenaga ahli yang siap dikerahkan dalam situasi krisis. Ia menambahkan bahwa dengan dukungan para veteran militer, program ini dapat mengintegrasikan pengetahuan taktis dan strategis ke dalam kebijakan publik, sehingga meningkatkan responsibilitas negara dalam melindungi kepentingan nasional.
Para peserta secara umum menyambut baik inisiatif tersebut. Jenderal (Purn) Wiranto menekankan perlunya “kekuatan intelektual” yang terlatih untuk mengimbangi kemajuan teknologi musuh. Jenderal Andika Perkasa menegaskan komitmen TNI dalam mendukung program tersebut melalui penempatan perwira senior pada posisi-posisi kunci di Kementerian Pertahanan. Sementara Jenderal (Purn) Moeldoko mengusulkan pembentukan forum tahunan yang melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk akademisi dan dunia bisnis, untuk memperkaya perspektif kebijakan.
Selain itu, Menhan Sjafrie menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) TNI, yang mencakup program beasiswa khusus bagi ASN Komcad yang ingin menempuh pendidikan lanjutan di bidang pertahanan siber dan logistik militer. Program beasiswa ini diharapkan dapat menghasilkan tenaga ahli yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki pengalaman lapangan yang relevan.
Langkah ini mendapat tanggapan positif dari kalangan akademisi. Dr. Budi Santoso, pakar keamanan nasional dari Universitas Indonesia, mencatat bahwa kolaborasi antara militer dan sipil merupakan “kunci utama” dalam menciptakan kebijakan pertahanan yang adaptif dan responsif. Ia menambahkan bahwa pendekatan berbasis data dan analisis risiko harus menjadi landasan utama dalam setiap keputusan strategis.
Secara keseluruhan, pertemuan yang dipimpin oleh Menhan Sjafrie ini menandai fase baru dalam upaya memperkuat pilar strategis NKRI melalui sinergi antara veteran militer, jenderal aktif, dan ASN Komcad. Dengan melibatkan tokoh-tokoh senior yang memiliki rekam jejak luas di bidang pertahanan, diharapkan kebijakan yang dihasilkan dapat menjawab dinamika keamanan global dan regional yang semakin tidak menentu.
Keberhasilan inisiatif ini akan sangat bergantung pada implementasi rekomendasi yang telah disepakati, serta komitmen jangka panjang semua pihak untuk menjaga integritas dan profesionalisme dalam melindungi kedaulatan bangsa.











