Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 22 Mei 2026 | Pejabat utama negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Amerika Serikat (AS) masih berupaya memulai perang baru terhadap negaranya. Washington dinilai belum meninggalkan tujuan militer terhadap Teheran, meski saat ini Iran tengah diterpa tekanan ekonomi dan politik.
Tuduhan tersebut disampaikan Ghalibaf melalui pesan audio yang dipublikasikan di situs resminya. Menurutnya, pergerakan AS—baik yang dilakukan secara terbuka maupun diam-diam—menunjukkan bahwa Washington masih memiliki ambisi militer terhadap Iran.
"Pergerakan musuh, baik yang terang-terangan maupun rahasia, menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan ekonomi dan politik, mereka belum meninggalkan tujuan militernya dan sedang berusaha memulai perang baru," kata Ghalibaf.
Ketua Parlemen Iran itu menilai, Amerika masih berharap Iran menyerah dan menerima tuntutan yang dianggapnya berlebihan. Ia juga menyinggung terkait tekanan ekonomi serta blokade laut yang telah diberlakukan sejak 13 April 2026.
Para anggota Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan Angkatan Laut Iran saat melakukan latihan militer di Teluk untuk memulai rangkaian simulasi militer di Selat Hormuz pada 16 Februari 2026.
Pernyataan keras dari Ghalibaf ini muncul di tengah situasi panas antara Teheran dan Washington. Kedua pihak saling melontarkan ancaman, meski di sisi lain mereka tengah bertukar proposal untuk mengakhiri perang yang pecah pada 28 Februari, serta gencatan senjata sejak 8 April.
Pada hari yang sama, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) turut mengeluarkan peringatan keras. IRGC memperingatkan, perang dapat meluas hingga ke luar kawasan Timur Tengah apabila AS dan Israel kembali melancarkan serangan.
Ancaman dari IRGC tersebut mencuat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan, dirinya akan kembali menyerang Iran jika Teheran tidak menyetujui kesepakatan damai.
Merespons situasi tersebut, Ghalibaf menyerukan agar seluruh elemen di Iran meningkatkan kesiapan guna menghadapi kemungkinan adanya serangan baru. "Kita harus memperkuat persiapan untuk memberikan respons yang efektif dan kuat terhadap setiap potensi serangan," ujarnya.
Ia juga menegaskan posisi negaranya yang tidak akan gentar menghadapi tekanan dari AS. "Iran tidak akan pernah tunduk pada intimidasi, dalam keadaan apa pun," tambah Ghalibaf.
Di sisi lain, Ghalibaf tidak menampik adanya tekanan ekonomi nyata yang saat ini dirasakan masyarakat Iran.
Kesimpulan dari pernyataan Ghalibaf dan situasi yang terjadi antara Iran dan AS menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua negara masih tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda untuk mereda. Perang baru dan tekanan ekonomi masih menjadi ancaman nyata bagi Iran, namun negara tersebut tetap bersiapsiaga dan tidak gentar menghadapi tekanan dari AS.











