Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 12 Mei 2026 | Iran menjadikan pengembalian aset-aset yang dibekukan di luar negeri sebagai salah satu tuntutan utama dalam upaya mengakhiri perang dengan Amerika Serikat. Pemerintah Iran menilai aset tersebut merupakan hak rakyat Iran yang selama bertahun-tahun tidak dapat diakses akibat sanksi dan pembatasan internasional.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan, negaranya meminta “pengakhiran perang di kawasan”, penghentian blokade laut AS, serta “pembebasan aset milik rakyat Iran yang selama bertahun-tahun secara tidak adil terjebak di bank-bank asing.
Baqaei menegaskan bahwa Iran tidak meminta konsesi tambahan dalam proposal terbarunya kepada Washington. “Kami tidak menuntut konsesi apa pun. Satu-satunya yang kami tuntut adalah hak-hak sah Iran,” katanya.
Aset beku adalah dana, properti, atau sekuritas milik suatu negara yang ditahan oleh negara lain, lembaga internasional, atau institusi keuangan sehingga pemiliknya tidak dapat mengakses atau menggunakannya. Sebagian besar aset Iran yang dibekukan berasal dari pendapatan penjualan minyak, aset bank sentral, serta dana lain yang tertahan di bank-bank luar negeri akibat sanksi Amerika Serikat dan negara Barat.
Sanksi terhadap Iran telah berlangsung sejak 1979, ketika Revolusi Iran memicu krisis penyanderaan warga AS di Kedutaan Besar Amerika di Teheran. Dalam perkembangannya, sanksi semakin meluas terkait program nuklir dan rudal balistik Iran.
Jumlah pasti aset Iran yang dibekukan tidak diketahui secara rinci. Namun, laporan resmi Iran dan sejumlah pakar memperkirakan nilainya mencapai lebih dari 100 miliar dollar AS. Peneliti senior Middle East Council on Global Affairs, Frederic Schneider, mengatakan, jumlah tersebut sangat besar bagi Iran yang selama puluhan tahun terdampak sanksi.
Menurut akademisi University of Cambridge Roxane Farmanfarmaian, pencairan aset akan membantu Iran memulihkan ekonominya, termasuk memperbaiki industri minyak, sistem air, dan jaringan listrik yang mengalami penurunan infrastruktur. “Jelas bahwa Iran juga harus membangun kembali setelah perang, dan aset yang dibebaskan akan segera membuat proses itu lebih cepat dan lebih efisien,” katanya.
Meski demikian, Schneider menyebut Iran tetap skeptis apakah AS benar-benar akan melepas aset tersebut tanpa syarat tambahan. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara Iran dan Amerika Serikat terus memburuk, terutama setelah AS memutuskan untuk keluar dari perjanjian nuklir yang ditandatangani pada 2015.
Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian tentang masa depan hubungan kedua negara dan prospek penyelesaian konflik yang berkepanjangan. Sementara itu, Iran terus berusaha untuk memperjuangkan hak-haknya dan mengakhiri sanksi yang telah melanda negara tersebut selama beberapa dekade.
Dalam upaya untuk mengakhiri perang dan memulihkan ekonomi, Iran berharap bahwa pengembalian aset-aset yang dibekukan dapat menjadi langkah penting dalam memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat dan masyarakat internasional. Namun, proses ini diprediksi akan menghadapi banyak tantangan dan ketidakpastian, terutama mengingat kompleksitas hubungan politik dan ekonomi antara kedua negara.











