Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 11 Mei 2026 | Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari dua bulan di Timur Tengah. Trump menyebut respons Teheran terhadap proposal AS sebagai sesuatu yang “sama sekali tidak dapat diterima”.
Proposal Iran mencakup penghentian perang di semua front, pencabutan blokade laut AS terhadap Iran, hingga jaminan tidak ada lagi serangan terhadap wilayah Iran. Namun, proposal AS disebut memuat 14 poin, termasuk penghentian program pengayaan uranium Iran, pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, serta pencabutan sebagian sanksi jika kesepakatan tercapai.
AS menuntut Iran menghentikan program nuklirnya sepenuhnya. Namun, Teheran menolak penghentian permanen dan hanya bersedia menerima pembatasan dalam jangka waktu tertentu. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menegaskan fasilitas pengayaan uranium Iran harus dibongkar sebelum perang dianggap benar-benar berakhir.
Trump mengatakan Washington ingin mengambil alih sekitar 400 kilogram uranium Iran yang telah diperkaya tingkat tinggi. Tetapi Iran menolak tuntutan tersebut karena dianggap melanggar kedaulatan nasionalnya. Isu ini menjadi salah satu poin paling sensitif dalam negosiasi.
Kedua pihak hingga kini belum mencapai kesepakatan final. Meski gencatan senjata sebagian besar masih bertahan, konflik antara Iran melawan AS dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari 2026 masih belum berakhir.
Dalam beberapa hari terakhir, upaya negosiasi yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik tersebut terus berlangsung. Namun, prosesnya terkesan lambat dan belum menunjukkan hasil yang signifikan.
Kesimpulan dari peristiwa ini adalah bahwa konflik antara AS dan Iran masih jauh dari penyelesaian. Kedua pihak masih memiliki perbedaan pendapat yang cukup besar, terutama terkait program nuklir Iran. Oleh karena itu, diperlukan upaya negosiasi yang lebih serius dan komprehensif untuk mengakhiri konflik ini.











