Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 30 April 2026 | PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) resmi memulai pelaksanaan program buyback saham pada 28 April 2026. Langkah korporasi ini diambil setelah mendapat persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang diselenggarakan pada 12 Maret 2026. Program buyback dirancang untuk berjalan selama 12 bulan, yakni dari 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027, dengan nilai maksimum sebesar Rp5 triliun.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menegaskan bahwa aksi buyback merupakan sinyal optimisme perusahaan terhadap fundamental bisnisnya. “Pelaksanaan Buyback merupakan sinyal optimisme kami di pasar modal Indonesia. Aksi korporasi ini merupakan wujud keyakinan kami atas fundamental bisnis Perseroan,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Rabu (29/4/2026). Ia juga menambahkan bahwa BBCA berkomitmen mematuhi prinsip Good Corporate Governance (GCG) serta seluruh peraturan yang berlaku.
Menurut manajemen, pelaksanaan buyback tidak akan memberikan dampak material terhadap kinerja keuangan dan operasional perusahaan. Namun, BBCA tetap memperhatikan dinamika pasar dalam proses pembelian kembali saham. Hal ini penting mengingat sentimen makro yang belakangan ini cukup tertekan, terutama akibat fluktuasi nilai tukar dan kebijakan moneter global yang memengaruhi aliran modal ke pasar saham Indonesia.
Reaksi pasar pada hari pelaksanaan pertama menunjukkan penurunan harga saham BBCA sebesar 0,42 persen, menutup pada level Rp5.975 per lembar. Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berhasil menutup pada level 7.101, mencatat kenaikan 0,41 persen. BBCA termasuk dalam daftar saham yang mengalami crossing jumbo bersama MORA dan UNVR, menandakan pergerakan volume perdagangan yang signifikan.
Beberapa analis memperingatkan bahwa meskipun buyback dapat meningkatkan EPS (Earnings Per Share) dan memberi dukungan harga jangka pendek, tekanan sentimen makro tetap menjadi faktor yang harus diwaspadai. Rekomendasi yang muncul beragam, mulai dari buy (beli) dengan target harga menengah hingga hold (tahan) bagi investor yang mengutamakan kestabilan portofolio. Secara umum, analis menilai bahwa BBCA berada pada posisi fundamental yang kuat, namun volatilitas pasar tetap dapat memengaruhi performa saham dalam jangka pendek.
| Periode | Mulai | Akhir | Nilai Maksimum |
|---|---|---|---|
| Buyback BBCA | 12 Maret 2026 | 11 Maret 2027 | Rp5 Triliun |
Program buyback BBCA diharapkan dapat memberikan manfaat ganda: pertama, meningkatkan nilai bagi pemegang saham melalui penurunan jumlah saham beredar; kedua, memperkuat kepercayaan investor terhadap komitmen manajemen dalam mengelola modal secara efisien. Dengan memperhatikan dinamika pasar dan tetap menjaga kepatuhan terhadap regulasi, BBCA menegaskan tekadnya untuk melangkah dengan prudensi pada tahun 2026.
Kesimpulannya, peluncuran buyback BBCA senilai Rp5 triliun menjadi indikator positif bagi fundamental perusahaan, meskipun aksi tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan harga saham pada hari pertama. Sentimen pasar yang menguat, terlihat dari kenaikan IHSG, memberikan ruang bagi BBCA untuk menunjukkan kinerjanya selama periode buyback. Investor disarankan untuk memantau perkembangan program serta faktor makro yang dapat memengaruhi pergerakan saham ke depan.











