Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 25 Juni 2026 | Proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Tengah 2026 telah dimulai, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, proses ini menimbulkan beberapa tantangan. Beberapa SMA negeri di Kota Semarang, Jawa Tengah, mengaku menerima upaya “penitipan” siswa dalam proses SPMB dari sejumlah orang tua yang mengaku-ngaku sebagai pejabat atau dekat dengan pejabat tertentu.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMAN 3 Semarang, Achmad Fauzan, mengakui adanya orang tua yang mengaku-ngaku sebagai pejabat atau dekat dengan pejabat untuk memasukkan anaknya ke sekolah tersebut tanpa melalui jalur semestinya, yakni berdasarkan domisili, prestasi, afirmasi, dan mutasi.
Namun, pihak sekolah menolak permintaan mereka. Fauzan menegaskan bahwa penerimaan siswa baru di sekolahnya hanya bisa melalui jalur domisili, prestasi, afirmasi, dan mutasi. “Kami tegaskan kepada mereka semua by sistem. No titip, no jastip, enggak ada jalur khusus, hanya ada empat itu saja,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jateng, Sadimin, mengatakan bahwa proses SPMB di Jateng dilaksanakan secara transparan. “SPMB Jawa Tengah 2026 no titip, no jastip,” ujarnya.
Di lain pihak, polemik SPMB SMKN 1 Puhpelem Wonogiri telah selesai, dengan 35 siswa yang gagal lolos tetap bisa sekolah gratis melalui program kemitraan dengan SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro.
Pelaksanaan SPMB SMP negeri di Kabupaten Batang sempat mengalami hambatan akibat pemadaman listrik bergilir, yang menyebabkan jaringan internet melambat dan server pendaftaran mengalami error.
Sejumlah calon wali murid juga gagal mendaftarkan anaknya ke SMAN 3 Semarang karena kelalaian dalam memahami tahapan dan persyaratan di Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMAN/SMKN 2026 di Jawa Tengah.
Kesimpulan dari proses SPMB Jateng 2026 adalah bahwa proses ini masih memiliki beberapa tantangan, namun dengan transparansi dan ketegasan dalam menerapkan aturan, diharapkan kualitas pendidikan dapat ditingkatkan.











