Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 09 Agustus 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah melemah, yang berdampak pada kenaikan harga barang-barang impor di Indonesia. Menurut Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), harga jual produk impor telah naik sekitar 5-10 persen dalam 1-2 bulan terakhir. Pelemahan nilai tukar rupiah ini juga mempengaruhi biaya produksi, terutama komponen dan rantai pasok yang terpengaruh pergerakan nilai tukar.
Daihatsu, salah satu produsen mobil di Indonesia, telah melakukan penyesuaian harga jual mobil pada Juli 2026. Kenaikan harga tersebut berada di kisaran Rp 1 juta hingga Rp 4 juta, tergantung model dan variannya. Menurut Marketing Director & Corporate Function Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Rokky Irvayandi, penyesuaian harga baru dilakukan setelah pada paruh pertama 2026.
Sementara itu, harga BBM Pertamina juga telah turun per Agustus 2026. VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora mengatakan perubahan harga BBM nonsubsidi dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan harga rata-rata minyak dunia serta nilai tukar rupiah. Penurunan harga BBM ini diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan pasokan BBM nasional.
Cadangan devisa Indonesia juga telah turun menjadi 145,3 miliar dolar AS pada akhir Juli 2026. Penurunan cadangan devisa dipengaruhi pembayaran utang luar negeri serta stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia. Namun, Bank Indonesia menilai bahwa cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan stabilitas makroekonomi nasional.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 juga telah tercatat sebesar 5,29 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa perekonomian Indonesia tumbuh lebih tinggi dari ekspektasi pelaku pasar. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, 5 Agustus 2026, bergerak menguat 94 poin atau 0,52 persen menjadi Rp17.933 per dolar AS.
Dalam kesimpulan, pelemahan nilai tukar rupiah telah berdampak pada kenaikan harga barang-barang impor dan biaya produksi. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 telah tercatat sebesar 5,29 persen, yang lebih tinggi dari ekspektasi pelaku pasar. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.











