Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 07 Agustus 2026 | Guru honorer di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan profesinya. Mereka tidak hanya menghadapi kesulitan dalam hal gaji yang rendah, tetapi juga kekurangan kepastian hukum dan keadilan dalam pengangkatan sebagai aparatur sipil negara (ASN).
Menurut data dari berbagai sumber, ada sekitar 29 guru non-ASN di Kota Metro yang dinonaktifkan dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sejak awal 2026. Hal ini membuat para guru tersebut kehilangan jejak pengabdian yang telah dipupuk bertahun-tahun dan tidak memiliki kepastian tentang masa depan mereka.
Ketua Forum Komunikasi Guru Non-ASN Kota Metro, Anna Zelvia, menyampaikan rintihan hati para guru tersebut langsung kepada jajaran pimpinan tertinggi negara, menagih nurani dan keadilan yang kian sulit dicari di tanah kelahiran mereka sendiri.
Pakar pendidikan Prof. Cecep Darmawan juga menyoroti krisis kekurangan guru di Jawa Barat dan menekankan pentingnya pengangkatan guru ASN sebagai langkah utama untuk menjaga layanan pendidikan tetap berjalan. Ia juga meminta pemerintah melakukan pemetaan kebutuhan guru secara berkala untuk memastikan tidak ada kekurangan guru di sekolah-sekolah.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, termasuk pengangkatan guru ASN dan peningkatan gaji guru. Namun, masih banyak tantangan yang harus diatasi untuk memastikan bahwa para guru honorer di Indonesia dapat menjalankan profesinya dengan baik dan memiliki kepastian tentang masa depan mereka.
Oleh karena itu, diperlukan perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dan memastikan bahwa para guru honorer dapat menjalankan profesinya dengan baik.











