Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 28 April 2026 | Pemerintah Indonesia terus memperkuat peran desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi melalui program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih. Inisiatif ini tidak hanya menargetkan kemandirian ekonomi desa, melainkan juga menciptakan peluang kerja dalam skala besar bagi masyarakat lokal, terutama di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang selama ini bergantung pada sektor pertanian.
Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa proses rekrutmen tenaga kerja Kopdes Merah Putih akan mengutamakan warga desa setempat. “Kami akan melibatkan pengurus koperasi desa yang sudah ada dan memberi mereka kesempatan menjadi karyawan di Kopdes Merah Putih,” ujar Ferry dalam konferensi pers di Jakarta. Selain pengurus, pemerintah juga membuka peluang bagi penerima bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) untuk bekerja sebagai kasir, sekuriti, sopir, dan posisi pendukung lainnya. Rekrutmen untuk posisi teknis tersebut akan dilakukan langsung oleh masing-masing desa, sehingga lebih adaptif terhadap kebutuhan lokal.
Data terbaru menunjukkan bahwa sebanyak 34.000 Kopdes Merah Putih telah mendirikan gerai fisik berupa gudang, toko, apotek, klinik, serta fasilitas logistik seperti cold storage. Dari jumlah itu, sekitar 2.500 koperasi telah menyelesaikan pembangunan secara penuh dan mulai beroperasi. Pemerintah menargetkan 30.000 koperasi desa Merah Putih (KDMP) beroperasi pada akhir April 2026, dengan harapan total 80.000 koperasi akan terdaftar secara nasional sejalan dengan jumlah desa di Indonesia.
Secara paralel, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengumumkan rekrutmen nasional untuk 30.000 posisi manajer Kopdes Merah Putih yang berlangsung dari 15 hingga 24 April 2026. Kandidat yang lolos seleksi akan menjalani pelatihan manajerial dan perkoperasian selama dua bulan sebelum ditugaskan mengelola unit koperasi desa. Manajer ini akan bekerja di bawah koordinasi lintas kementerian, khususnya Kementerian Koperasi, dengan tujuan mempercepat perputaran ekonomi desa dan mengurangi ketergantungan pada perantara dalam distribusi hasil produksi.
Pengamat ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Tadjudin Nur Effendi, menilai program ini dapat menurunkan tingkat pengangguran di pedesaan. “Jika satu Kopdes merekrut lima pegawai, pada Juni‑Juli akan tercipta 150 ribu lowongan kerja,” kata Effendi. Ia menambahkan bahwa bila 80 ribu Kopdes beroperasi penuh, potensi penciptaan lapangan kerja dapat mencapai sekitar 400 ribu posisi, memberikan alternatif karir di luar sektor pertanian yang terbatas.
Berikut adalah beberapa jenis pekerjaan yang diperkirakan akan muncul dari pengembangan Kopdes Merah Putih:
- Manajer unit koperasi (30.000 posisi nasional)
- Kasir dan petugas layanan pelanggan
- Sekuriti dan petugas keamanan
- Sopir distribusi barang dan logistik
- Petugas gudang, termasuk operator cold storage
- Tenaga medis di klinik dan apotek desa
- Staf administrasi dan akuntansi
Program ini juga menekankan inklusivitas. Pemerintah menyiapkan skema kerja sama antara koperasi desa yang sudah ada dengan manajer profesional, sehingga keputusan strategis tetap berada di tangan anggota koperasi. Asisten Deputi Bidang Organisasi dan Badan Hukum Kemenkop, Try Aditya Putra, menegaskan bahwa manajer tidak menggantikan peran pengurus, melainkan melaksanakan fungsi operasional harian.
Dengan dukungan dari pemerintah daerah, kelurahan, dan pemangku kepentingan setempat, pembangunan gerai-gerai Kopdes Merah Putih di wilayah masing‑masing diharapkan menjadi aset desa yang berkelanjutan. Gerai‑gerai tersebut meliputi kebutuhan pokok seperti sembako, pupuk, elpiji, serta layanan kesehatan berupa apotek dan klinik desa, yang semuanya berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Secara keseluruhan, Kopdes Merah Putih diproyeksikan menjadi motor penggerak baru dalam menciptakan lapangan kerja dan memperkuat fondasi ekonomi desa di Indonesia. Jika target 30 ribu koperasi beroperasi tercapai pada 2026, dampak ekonomi yang dihasilkan dapat mempercepat pemerataan kesejahteraan, khususnya di wilayah NTT yang selama ini menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur.
Kesimpulannya, keberhasilan Kopdes Merah Putih tidak hanya bergantung pada jumlah gerai yang dibangun, tetapi juga pada kualitas rekrutmen, pelatihan, dan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, serta masyarakat desa. Bila semua komponen ini berjalan selaras, Kopdes Merah Putih dapat menjadi contoh kebijakan ekonomi berbasis komunitas yang berhasil menurunkan pengangguran, meningkatkan pendapatan desa, dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.









