Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 09 Juni 2026 | Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate menjadi 5,5% telah memicu berbagai reaksi dari pelaku ekonomi dan investasi. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, mengungkapkan bahwa kenaikan BI Rate membuat pengusaha mempertimbangkan untuk menahan ekspansi bisnis.
Menurut Shinta, kenaikan BI Rate menjadi 5,5% turut menambah beban pembiayaan, apalagi bagi perusahaan yang cukup bergantung pada kredit perbankan. "Dengan kenaikan BI Rate, dunia usaha tentu berpotensi melakukan recalibration terhadap rencana ekspansi bisnis dan investasi," ujarnya.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bakal terus mencermati perbankan usai kenaikan BI Rate. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa OJK akan melakukan asessment terhadap dampak kenaikan BI Rate terhadap sektor jasa keuangan nasional.
Di sisi lain, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami kenaikan 7,5% dipicu oleh rencana program buyback saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big caps) BUMN dan kenaikan BI Rate. IHSG ditutup menguat 404,51 poin atau 7,57% ke posisi 5.746,65.
Ahnalis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa kenaikan suku bunga acuan ini belum cukup kuat untuk menggenjot kurs rupiah yang kian melemah. Namun, Lukman menilai bahwa putusan tersebut memang diperlukan dalam situasi mendesak.
Menurut Lukman, kenaikan BI Rate masih perlu usaha yang lebih jauh untuk memperkuat nilai tukar rupiah. "Untuk sementara memang positif bagi rupiah, namun ke depannya masih perlu usaha yang lebih jauh. BI masih perlu menaikkan suku bunga," ujarnya.
Di sisi lain, kenaikan BI Rate juga menambah tantangan bagi industri pengelolaan investasi. Direktur STAR Asset Management, I Nengah Sukerja, mengatakan bahwa kenaikan BI Rate tersebut menambah tantangan bagi industri pengelolaan investasi.
"Mungkin saat ini dinamika pasar keuangan cukup fluktuatif, di mana kondisi global yang luar biasa, fluktuatif, kemudian suku bunga yang perubahannya lumayan tiba-tiba. Seperti kita ketahui tadi malah ada berita suku bunga yang kira-kira 25 basis poin. Jadi saat ini sudah 5,50 persen jadi ini suatu tantangan yang menurut saya cukup berat dari kita yang di Asset Management," ujarnya.
STAR Asset Management melihat kondisi tersebut juga membuka peluang bagi instrumen investasi berbasis pendapatan tetap yang dinilai lebih stabil dibandingkan instrumen berisiko tinggi lainnya.
I Nengah mengatakan bahwa meningkatnya ketidakpastian pasar membuat investor cenderung mencari instrumen investasi yang menawarkan stabilitas dan tingkat risiko yang lebih terukur. Oleh karena itu, kebutuhan terhadap produk reksa dana pendapatan tetap dinilai terus meningkat.
Menurutnya, pengelolaan dana pada instrumen pendapatan tetap memungkinkan investor memperoleh potensi imbal hasil yang relatif stabil dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi.
Di kesimpulan, kenaikan BI Rate memiliki dampak yang signifikan terhadap ekonomi dan investasi. Pengusaha dan investor harus mempertimbangkan secara hati-hati untuk menahan ekspansi bisnis dan investasi. Namun, kenaikan BI Rate juga membuka peluang bagi instrumen investasi berbasis pendapatan tetap yang dinilai lebih stabil.











