Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 18 April 2026 | Helikopter PK-CFX yang beroperasi dalam lingkup Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Puspenerbal) mengalami kecelakaan fatal pada 16 April 2026 di wilayah Bukit Puntak, Sekadau, Kalimantan Barat. Pesawat jenis Airbus H130 ini lepas kontak saat melintasi jalur dari Sintang menuju Kubu Raya, kemudian menabrak lereng bukit yang curam. Kecelakaan tersebut menewaskan Mayor Laut (Purn) Marindra Wibowo, sang pilot, beserta tujuh penumpang lainnya, termasuk kopilot dan seorang warga negara asing.
Mayor Laut Marindra Wibowo, yang sempat meniti karier di Skuadron 200 Wing Udara 1 Surabaya sebagai Wakil Komandan Skuadron, dikenal sebagai perwira dengan dedikasi tinggi. Selama masa aktifnya, ia pernah terlibat dalam Multilateral Naval Exercise Komodo 2014 di Batam, dimana ia berperan dalam operasi pengamanan udara menggunakan helikopter Bell 412. Rekan-rekannya mengingatnya sebagai mentor yang sering membagikan ilmu penerbangan instrumen dan surveillance kepada junior.
Setelah kecelakaan, tim SAR gabungan yang dipimpin oleh Kepala Kantor SAR Pontianak, I Made Junetra, melancarkan operasi evakuasi di medan yang sulit. Pengangkatan jenazah selesai pada Kamis malam pukul 22.00 WIB, setelah proses penanganan puing‑puing helikopter selesai. Seluruh delapan korban berhasil dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kalimantan Barat untuk perawatan medis awal dan identifikasi forensik.
Identifikasi korban dipimpin oleh Kombes Pol dr. J. Ginting, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kalbar, yang bekerja sama dengan tim Biddokkes dan empat dokter forensik. Proses identifikasi dilakukan secara optimal dengan pencocokan data antemortem dan postmortem. Hingga akhir pekan, semua korban telah berhasil diidentifikasi, meski satu korban warga negara asing masih memerlukan verifikasi sidik jari dengan negara asalnya.
- Joko Catur Prasetyo
- Charles Dominson Lakidang
- Patrick Kee Chuan Peng (warga Malaysia)
- Victor Tan Keng Liam
- Mayor Laut Marindra Wibowo (pilot)
- Harun Arasyd (kopilot)
- Fauzi Organta
- Sugito Tag
Penanganan identifikasi yang cepat dipuji oleh publik dan pejabat setempat sebagai bukti sinergi antara TNI, Polri, dan lembaga kesehatan. Namun, proses akhir yang melibatkan rekonsiliasi data masih menunggu konfirmasi resmi sebelum jenazah diserahkan kepada keluarga.
Sementara identifikasi korban telah selesai, penyebab pasti kecelakaan masih dalam tahap penyelidikan. Badan Nasional Penyelenggara Transportasi Udara (KNKT) menyatakan akan merilis laporan awal penyebab dalam 30 hari ke depan. Beberapa indikasi awal mengarah pada kemungkinan kegagalan mekanis, meskipun penyelidikan masih terbuka untuk faktor lain seperti cuaca atau kesalahan manusia.
Berbagai spekulasi muncul di media sosial mengenai faktor penyebab. Sebagian mengaitkan kejadian dengan kondisi cuaca di wilayah hutan tropis Kalimantan Barat, sementara yang lain menyoroti usia pesawat dan riwayat perawatan helikopter Airbus H130. KNKT menegaskan bahwa semua data penerbangan, termasuk rekaman black box, akan dianalisis secara menyeluruh.
Di samping itu, keluarga korban, terutama istri Mayor Laut Marindra Wibowo, Serma APM/W Rena Purnama Dewi, menyampaikan rasa duka yang mendalam serta harapan agar penyelidikan dapat memberikan kejelasan. Mereka juga mengapresiasi dukungan moral dari rekan-rekan di Puspenerbal yang terus mengingatkan dedikasi almarhum dalam setiap kegiatan veteran.
Kejadian ini menambah deretan tragedi penerbangan militer di Indonesia yang menuntut peningkatan standar keselamatan dan pemeliharaan pesawat. Pemerintah dan institusi terkait diharapkan memperkuat prosedur inspeksi rutin, terutama untuk helikopter yang sering melakukan operasi pengamanan wilayah perairan yang strategis.
Dengan identifikasi korban yang telah selesai dan penyelidikan penyebab yang masih berjalan, masyarakat menantikan hasil resmi dari KNKT. Hasil tersebut diharapkan dapat menjadi pelajaran penting bagi keselamatan penerbangan militer dan sipil di Indonesia.









