Internasional

Trump Perintahkan Penembakan Kapal Iran di Selat Hormuz, Operasi Penyapu Ranjau Ditingkatkan Tiga Kali Lipat

×

Trump Perintahkan Penembakan Kapal Iran di Selat Hormuz, Operasi Penyapu Ranjau Ditingkatkan Tiga Kali Lipat

Share this article
Trump Perintahkan Penembakan Kapal Iran di Selat Hormuz, Operasi Penyapu Ranjau Ditingkatkan Tiga Kali Lipat
Trump Perintahkan Penembakan Kapal Iran di Selat Hormuz, Operasi Penyapu Ranjau Ditingkatkan Tiga Kali Lipat

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 25 April 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Kamis (23 April 2026) mengeluarkan perintah tegas melalui akun media sosialnya, Truth Social, untuk menembak setiap kapal Iran yang tertangkap menebar ranjau di Selat Hormuz. Perintah tersebut sekaligus menuntut peningkatan operasi kapal penyapu ranjau hingga tiga kali lipat, dengan tujuan memastikan keamanan jalur pelayaran yang menjadi arter penting bagi pasokan minyak dunia.

Kebijakan baru ini muncul di tengah ketegangan yang terus memuncak setelah serangkaian aksi saling cegat antara armada Amerika Serikat dan Angkatan Laut Iran. Meskipun perjanjian gencatan senjata yang difasilitasi Pakistan masih berlaku, blokade maritim yang diberlakukan oleh Amerika Serikat tetap berlanjut, menambah tekanan pada pemerintah Tehran.

Trump menegaskan tidak ada toleransi atas aktivitas penanaman ranjau: “Saya telah memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menembak dan membunuh kapal mana pun yang memasang ranjau di perairan Selat Hormuz. Tidak boleh ada keraguan sedikit pun dalam pelaksanaan perintah militer ini,” ujar beliau dalam pernyataannya yang dikutip oleh Al Jazeera.

Perintah tersebut diikuti oleh langkah operasional konkret. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan bahwa setidaknya 33 kapal komersial telah dipaksa berbalik atau menunggu instruksi lebih lanjut. Selain itu, armada penyapu ranjau yang sebelumnya beroperasi dengan satu atau dua unit kini ditugaskan tiga kali lipat kapasitas, menggerakkan tiga kapal tambahan ke zona kritis.

  • Penambahan tiga kapal penyapu ranjau ke Selat Hormuz.
  • Peningkatan patroli udara dan kapal permukaan AS di wilayah tersebut.
  • Penerapan aturan “no‑go” untuk semua kapal sipil tanpa izin resmi.

Langkah ini berisiko memperburuk kesepakatan gencatan senjata yang rapuh. Pada saat yang sama, Iran menanggapi dengan menegaskan blokade tersebut melanggar poin‑poin perjanjian. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menolak membuka kembali selat hingga blokade dicabut, menyebutnya sebagai “pelanggaran terang‑terangan.”

Pemerintah Tehran juga membantah tuduhan Trump mengenai perpecahan internal. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, melalui unggahan resmi di media sosial, menegaskan bahwa semua elemen sipil dan militer tetap bersatu di bawah komando Pemimpin Tertinggi, menolak segala spekulasi tentang konflik faksi di dalam negeri.

Sementara itu, aksi penegakan sanksi ekonomi terus berlanjut. Pada minggu sebelumnya, pasukan AS berhasil mencegat kapal tanker M/T Majestic X yang diduga menyelundupkan minyak Iran ke pelabuhan di China. Sebelumnya, kapal tanker Tifani juga disita atas tuduhan pelanggaran sanksi yang serupa. Sebagai tanggapan, Angkatan Laut Iran mengklaim telah menyita kapal kargo MSC Francesca dan Epaminondas yang melintasi Selat Hormuz.

Statistik menunjukkan bahwa Selat Hormuz menyumbang sekitar 20 persen minyak mentah dunia. Gangguan di jalur ini berpotensi menimbulkan fluktuasi harga energi global dan mengganggu rantai pasok. Para analis memperingatkan bahwa eskalasi militer lebih lanjut dapat menjerumuskan pasar energi ke dalam ketidakstabilan yang signifikan.

Di tengah dinamika geopolitik ini, Pakistan berperan sebagai mediator, meminta perpanjangan gencatan senjata. Pemerintah Amerika Serikat, meski memperpanjang gencatan, tetap menegaskan blokade maritimnya sebagai langkah tekanan terhadap Iran sampai ada kesepakatan baru yang memuaskan.

Dengan perintah penembakan kapal Iran dan peningkatan operasi penyapu ranjau, situasi di Selat Hormuz kini berada pada titik kritis. Semua pihak diharapkan menahan langkah-langkah yang dapat memicu konflik terbuka, sambil terus mencari solusi diplomatik yang dapat menjamin keamanan jalur pelayaran vital ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *