Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 04 Mei 2026 | Yogyakarta – Keluarga balita yang menjadi korban kekerasan daycare Little Aresha mengungkapkan perilaku aneh sang anak setelah insiden tersebut. Menurut orang tua, anak berusia dua setengah tahun itu mulai sering memakai pakaian berwarna gelap yang disebut mereka “baju nangis”, seolah-olah ingin mengekspresikan rasa sakit yang tak dapat diucapkan dengan kata.
Perilaku tersebut pertama kali diperhatikan oleh sang ibu ketika mengantar anak ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Si kecil menolak memakai baju cerah yang biasanya dipilihnya, memilih kaos hitam dengan gambar awan gelap. “Dia menolak, bahkan menolak dipeluk, dan terus berulang‑ulang menggerakkan tangannya seolah‑olah ingin menjerit,” ujar sang ibu dalam wawancara eksklusif.
Kejadian ini menambah panjang daftar sorotan publik terhadap tragedi kekerasan daycare di Little Aresha. Sejak kejadian, media sosial dipenuhi komentar yang menyoroti tidak hanya tindakan kekerasan, tetapi juga keputusan orang tua menitipkan anak di tempat penitipan. Beberapa warganet menuding ibu sebagai pihak yang bersalah, menganggap bahwa pengasuhan seharusnya dilakukan secara eksklusif oleh orang tua, terutama ibu, tanpa mengorbankan waktu kerja atau pilihan hidup lainnya.
Di sisi lain, muncul pula suara‑suara yang membela keputusan orang tua. Mereka menekankan bahwa tidak semua ibu memiliki pilihan yang sama; faktor ekonomi, kebutuhan kerja, dan dukungan keluarga menjadi pertimbangan penting. “Yang harusnya menjadi fokus adalah kekerasan yang terjadi di daycare, bukan menghakimi ibu yang harus bekerja,” tulis seorang netizen yang menyebut diri sebagai aktivis hak anak.
Fenomena ini mencerminkan apa yang sosiolog Sharon Hays sebut sebagai “intensive mothering” – standar sosial yang menuntut ibu untuk mencurahkan waktu, energi, dan perhatian secara total bagi anak. Dalam kerangka tersebut, keputusan menitipkan anak ke daycare seringkali dilihat sebagai penyimpangan, meskipun dalam realitas banyak ibu menghadapi keterbatasan ekonomi dan sosial yang memaksa mereka mengambil langkah tersebut.
Para ahli kesehatan anak menegaskan bahwa perilaku seperti “baju nangis” dapat menjadi bentuk trauma non‑verbal pada balita. Menurut psikolog anak, perubahan perilaku, penolakan pakaian, atau ketidakmampuan berinteraksi normal dapat menjadi indikator stres pasca‑trauma. Mereka menyarankan pendekatan terapi bermain dan konseling keluarga untuk membantu proses pemulihan.
Di tingkat politik, kasus Little Aresha juga menjadi bahan perdebatan. Beberapa anggota legislatif mengajukan pertanyaan kepada pemerintah daerah mengenai regulasi dan pengawasan daycare. Kritik diarahkan pada minimnya standar keamanan, pelatihan staf, serta mekanisme pelaporan kekerasan. Sementara pihak pemerintah menegaskan bahwa mereka telah meningkatkan inspeksi, namun mengakui masih ada tantangan dalam penegakan aturan secara konsisten.
Respons media tradisional pun beragam. Kolom opini di sebuah surat kabar universitas menyoroti bagaimana masyarakat cenderung menyalahkan ibu, padahal masalah struktural seperti regulasi daycare dan perlindungan hak anak perlu mendapat perhatian utama. Penulis kolom menutup dengan menyerukan perlunya perubahan paradigma: dari menyalahkan individu menjadi memperkuat sistem perlindungan anak.
Sejauh ini, pihak Little Aresha belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait perilaku aneh balita tersebut. Namun, mereka telah mengumumkan rencana evaluasi internal dan kerja sama dengan lembaga perlindungan anak untuk meninjau prosedur keamanan dan pelatihan staf.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa trauma pada balita dapat muncul dalam bentuk yang tidak terduga, dan bahwa dukungan psikologis serta kebijakan publik yang kuat sangat diperlukan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Dengan menyoroti perilaku “baju nangis” dan respons sosial yang beragam, publik diharapkan dapat memahami bahwa penyelesaian masalah tidak hanya terletak pada mengkritik pilihan orang tua, melainkan pada memperkuat sistem perlindungan anak, meningkatkan standar daycare, dan mengedukasi masyarakat tentang tanda‑tanda trauma pada balita.











