Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 01 Mei 2026 | Jakarta, 30 April 2026 – Malam Jumat (26/04) menjadi sorotan publik ketika Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, hadir di resepsi pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju yang diselenggarakan di Hotel Raffles, Jakarta. Acara yang dihadiri oleh sejumlah tokoh hiburan, pejabat, dan kalangan bisnis itu turut dimeriahkan dengan penampilan musik dari Dewa 19. Namun, kehadiran sang Presiden tidak lepas dari kontroversi protokol istana karena permintaan khusus El Rumi untuk berfoto bersama seluruh orang tua mempelai.
Menurut saksi mata, suasana sempat menjadi canggung ketika El Rumi mendesak Presiden Prabowo untuk berfoto bersama kedua orang tua mempelai—Maia Estianty, Irwan Mussry, serta orang tua Mulan Jameela. Tradisi protokol istana biasanya mengatur agar foto bersama pemimpin negara dilakukan secara terpisah dengan masing‑masing pihak keluarga, guna menghindari situasi “awkward”. Namun, El Rumi bersikeras menyatukan semua orang tua dalam satu frame, sehingga Presiden Prabowo harus menyesuaikan diri.
Selama sesi foto, Presiden Prabowo sempat keliru mengira suami Maia Estianty, Irwan Mussry, sebagai ayah Syifa Hadju. Kesalahan identifikasi ini langsung diluruskan oleh Ahmad Dhani, ayah dari Syifa, yang duduk bersisian dengan sang Presiden. Dhani kemudian mengungkapkan kebingungan tersebut dalam unggahan media sosial yang memperoleh lebih dari 44.000 suka dan memicu beragam komentar netizen.
- El Rumi menolak pemisahan sesi foto yang diusulkan oleh tim protokol.
- Presiden Prabowo sempat mengira Irwan Mussry sebagai ayah Syifa Hadju.
- Ahmad Dhani memperbaiki kesalahan tersebut secara langsung di meja makan.
Sementara itu, pada siang harinya, Presiden Prabowo melaksanakan taklimat penting di hadapan lebih dari 1.500 komandan satuan (Dansat) TNI di Universitas Pertahanan, Bogor. Acara yang diiringi dengan lagu perjuangan “Maju Tak Gentar” dan “Garuda Pancasila” menegaskan kembali komitmen pemerintah terhadap kekuatan pertahanan negara. Taklimat tersebut dihadiri pula oleh pejabat tinggi kementerian, menandakan sinergi kuat antara aparat militer dan pemerintahan.
Keputusan Presiden untuk tetap menghadiri resepsi pernikahan sekaligus menjalankan taklimat militer pada hari yang sama menunjukkan pola kerja yang intens. Bagi sebagian kalangan, kehadirannya di acara keluarga selebriti menimbulkan pertanyaan mengenai prioritas dan penegakan protokol, sementara bagi yang lain, kehadirannya dipandang sebagai upaya memperkuat citra kedekatan dengan masyarakat luas, termasuk kalangan hiburan.
Penggunaan Dewa 19 sebagai penghibur menambah nuansa nostalgia. Meskipun tidak ada kolaborasi dengan grup K‑pop Once, penampilan solo band legendaris tersebut berhasil menghidupkan suasana. Penonton, termasuk tokoh politik dan militer, tampak menikmati lagu‑lagu hits seperti “Kau Pilih Aku” dan “Separuh Nafas”.
Netizen pun membagi pendapatnya secara beragam. Sebagian menilai bahwa kehadiran Presiden di resepsi merupakan langkah strategis untuk menumbuhkan goodwill, sedangkan lainnya menyoroti pelanggaran protokol yang dapat menurunkan citra institusi kepresidenan. Komentar paling tajam datang dari akun anonim yang menyebut “tantrum mulu Pak kalau habis hajatan”.
Secara keseluruhan, malam tersebut mencerminkan dinamika antara dunia politik dan hiburan di Indonesia. Meskipun ada kekhilafan protokol, Presiden Prabowo tetap berhasil menavigasi dua agenda penting—menjalin hubungan sosial di kalangan selebriti serta menguatkan moral TNI melalui taklimat militer. Bagaimana publik menilai keseimbangan tersebut akan menjadi bahan diskusi lanjutan di media sosial dan ruang publik.
Kesimpulannya, kehadiran Presiden Prabowo di resepsi El Rumi‑Syifa menimbulkan sorotan ganda: sebagai simbol kebersamaan dengan masyarakat dan sebagai contoh tantangan penegakan protokol istana. Di samping itu, penampilan Dewa 19 tanpa kolaborasi dengan Once menambah nilai hiburan yang membedakan acara tersebut dari resepsi pernikahan tradisional.









