Ekonomi

IHSG Bertahan di Level 6.000, BBCA dan BRI Jadi Jagoannya

×

IHSG Bertahan di Level 6.000, BBCA dan BRI Jadi Jagoannya

Share this article
IHSG Bertahan di Level 6.000, BBCA dan BRI Jadi Jagoannya
IHSG Bertahan di Level 6.000, BBCA dan BRI Jadi Jagoannya

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 13 Juli 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan di level 6.000 pada Senin, 13 Juli 2026. Penguatan indeks ini didorong oleh sentimen positif setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.

IHSG ditutup menguat 113,48 poin atau 1,91 persen ke level 6.037. Secara teknikal, indeks juga berhasil breakout di atas level 6.000 serta ditutup di atas moving average (MA) 5, MA10, dan MA20, yang membuka peluang penguatan lanjutan menuju area resistance 6.080-6.120.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar setelah ditutup naik 0,81 persen ke level 6.225. Posisi berikutnya ditempati PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang turun 10,53 persen ke level 204, serta PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang menguat 2,87 persen ke level 2.870.

Valuasi saham big bank juga dinilai sudah murah. Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai sektor perbankan masih ditopang kombinasi sentimen global dan domestik. Penguatan saham teknologi di Amerika Serikat kembali meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang.

Di sisi domestik, ekspektasi kinerja kuartal II-2026 yang tetap solid, valuasi saham yang masih menarik, serta mulai stabilnya nilai tukar rupiah menjadi penopang utama sektor ini. “Valuasi sektor perbankan yang masih di bawah rata-rata historis membuka peluang re-rating jika sentimen pasar terus membaik,” ujar Andrey Wijaya.

Sementara itu, saham perbankan khususnya big banks melemah pada perdagangan hari sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen masuknya Indonesia ke dalam daftar pantau (watchlist) S&P Dow Jones Indices. Namun, analis Senior Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, pelemahan saham perbankan dipengaruhi aksi ambil untung (profit taking) setelah sebelumnya menguat.

Pelemahan yang terjadi lebih mencerminkan penyesuaian portofolio investor dibandingkan perubahan pada fundamental. “Masuknya Indonesia ke dalam watchlist S&P Dow Jones Indices memang menjadi sentimen yang membuat pelaku pasar lebih berhati-hati. Namun, tekanan terhadap saham bank masih relatif terbatas dan lebih mencerminkan aksi penyesuaian portofolio,” ujarnya.

IHSG yang bertahan di level 6.000 membuka peluang bagi indeks untuk melanjutkan penguatan menuju area resistance selanjutnya. Dengan valuasi saham big bank yang sudah murah, sektor perbankan masih menjadi salah satu pilihan investor. Namun, perlu diingat bahwa sentimen global dan domestik masih menjadi penentu utama pergerakan IHSG.

Kesimpulan, IHSG yang bertahan di level 6.000 membuka peluang bagi indeks untuk melanjutkan penguatan menuju area resistance selanjutnya. Dengan valuasi saham big bank yang sudah murah, sektor perbankan masih menjadi salah satu pilihan investor. Namun, perlu diingat bahwa sentimen global dan domestik masih menjadi penentu utama pergerakan IHSG.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *