Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 13 Juli 2026 | Generasi Z (Gen Z) saat ini menjadi kelompok terbesar di Indonesia, dengan jumlah mencapai 24,9% dari total penduduk. Mereka akan menjadi motor penggerak konsumsi, tenaga kerja, dan wajah baru dunia investasi di Indonesia. Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), per Mei 2026, sekitar 54,4% investor pasar modal berasal dari kelompok Gen Z.
Namun, masih banyak siswa dan mahasiswa yang merasa investasi adalah sesuatu yang “belum untuk sekarang” karena belum memiliki penghasilan tetap, uang saku terbatas, atau merasa modal yang dimiliki terlalu kecil untuk mulai berinvestasi. Padahal, justru di saat sekaranglah investasi yang paling berharga bisa dimulai.
Investasi tidak hanya tentang jual-beli saham, obligasi, reksadana, atau aset tertentu, tetapi juga tentang dorongan tambahan pada diri sendiri, seperti membangun kebiasaan, pengetahuan, dan keterampilan yang akan memberikan imbal hasil jauh lebih besar daripada keuntungan finansial jangka pendek.
Robert T Kiyosaki dalam Rich Dad Poor Dad (1997) menuliskan bahwa “Your most important asset is your mind. If it is trained well, it can create enormous wealth.” Pemikiran klasik Irving Fisher (1930) dalam teori intertemporal choice, juga mengingatkan bahwa investasi pada dasarnya adalah keputusan untuk menunda sebagian konsumsi hari ini agar memperoleh manfaat atau konsumsi yang lebih besar di masa depan.
Bagi Gen Z yang tengah membangun “portofolio” pertama, perlu diingat bahwa portofolio terbaik di usia muda bukanlah kumpulan instrumen investasi, melainkan kumpulan kebiasaan baik. Pandangan ini sejalan dengan berbagai otoritas dan lembaga global, seperti World Bank, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menekankan pentingnya literasi keuangan dan investasi.
Tidak hanya mengetahui produk investasi, tetapi juga tentang membentuk cara berpikir yang sehat dalam mengelola uang, termasuk membedakan kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Dengan fondasi tersebut, ketika kesempatan untuk berinvestasi benar-benar datang, seseorang tidak hanya memiliki modal finansial, tetapi juga modal pengetahuan dan karakter untuk mengambil keputusan yang lebih bijak.
Hal ini dapat dimulai dari bagaimana Gen Z memahami cara mengelola uang saku dengan baik agar selalu tersedia dana untuk memenuhi kebutuhan serta menghadapi keadaan darurat. Meskipun belum memiliki penghasilan tetap, anggaran tetap perlu dibagi ke dalam beberapa pos sesuai tujuan penggunaannya, seperti dana operasional untuk kebutuhan sehari-hari, dana darurat, tabungan, dan investasi.
Besarnya alokasi pada setiap pos bergantung pada kondisi masing-masing. Bagi mahasiswa yang menggunakan uang sakunya untuk membayar kebutuhan sehari-hari, sebagian besar anggaran sebaiknya dialokasikan untuk dana operasional.
Dalam beberapa tahun ke depan, Gen Z akan menjadi motor penggerak konsumsi, tenaga kerja, dan wajah baru dunia investasi di Indonesia. Maka, penting untuk membangun fondasi investasi yang kuat sejak dini, tidak hanya dengan memahami produk investasi, tetapi juga dengan membentuk kebiasaan baik dan pengetahuan yang tepat dalam mengelola uang.











