Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 14 Juli 2026 | Antrean BBM subsidi solar kembali meluas di beberapa daerah, terutama di Sumatera Selatan. Hal ini disebabkan oleh kekurangan stok solar yang memadai di beberapa SPBU. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah mengadakan rapat koordinasi dengan Pertamina dan BPH Migas untuk membahas masalah ini.
Rusminto Wahyudi, Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, menyatakan bahwa stok solar sebenarnya aman dan mencukupi sesuai dengan kuota di SPBU di Sumsel. Namun, ada kejanggalan pada usulan kuota solar tahun 2026 yang melonjak drastis, terutama dari Kabupaten OKU Selatan.
Dinas ESDM Sumsel mengakui adanya kemungkinan kekeliruan data usulan kuota dari kabupaten, namun tetap diajukan karena keterbatasan waktu. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan meminta Pertamina untuk menambah stok solar di daerah tersebut.
Antrean BBM subsidi juga berdampak pada operasional perusahaan otobus. Waktu tempuh perjalanan Medan-Jakarta yang biasanya tiga hari kini bertambah menjadi sekitar empat hari akibat sopir harus mengantre solar di berbagai SPBU.
Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menilai bahwa penggunaan Pertalite (RON 90) menghasilkan emisi gas buang lebih tinggi dibanding bensin dengan kualitas yang lebih baik. Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Safrudin mengatakan bahwa kualitas bahan bakar menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi tingkat pencemaran udara dari kendaraan bermotor.
Penggunaan Pertalite juga dapat mengurangi pengeluaran harian, namun memiliki konsekuensi terhadap lingkungan. Selisih harga Pertalite dan Pertamax yang mencapai Rp 6.250 per liter membuat biaya pengisian tangki kendaraan menjadi jauh lebih murah jika menggunakan Pertalite.
Kesimpulan dari masalah ini adalah bahwa pemerintah perlu memperhatikan stok solar yang memadai di beberapa daerah, terutama di Sumatera Selatan. Selain itu, penggunaan Pertalite juga perlu diimbangi dengan pemahaman akan dampaknya terhadap lingkungan.











