Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 22 April 2026 | Rizki Rahman Al Farisi, siswa kelas XI SMA Dian Didaktika Cinere, berusia 17 tahun, kini berada di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, menanti keberangkatan ke Tanah Suci. Ia berangkat bersama ibunya, menggantikan almarhum ayahnya yang belum sempat menunaikan rukun Islam kelima.
Rencana awal Rizki untuk menunaikan haji telah dijadwalkan pada tahun 2021. Namun, regulasi usia minimal jemaah haji pada saat itu mensyaratkan usia 13 tahun, kemudian diperketat menjadi 17 tahun. Karena belum mencapai batas tersebut, keberangkatannya harus ditunda hingga ia genap 17 tahun pada 2026. “Harusnya saya berangkat 2021, cuma dikarenakan belum cukup umur, waktu itu kalau tidak salah minimal 13 tahun. Akhirnya dibolehkan umur 17 tahun,” ujar Rizki saat diwawancarai.
Persiapan fisik menjadi fokus utama Rizki. Sebagai remaja yang hobi bermain futsal dan rutin berlari, ia merasa memiliki stamina yang cukup untuk membantu ibunya dan jamaah lain selama ibadah. Ia menambahkan, “Karena saya masih muda, saya harus lebih siap, terutama dari segi fisik. Kalau ada jamaah yang lebih tua membutuhkan bantuan, saya harus bisa diandalkan.” Berikut ini beberapa langkah persiapan yang dilakukannya:
- Latihan kardio harian berupa lari jarak menengah dan futsal.
- Latihan kekuatan otot melalui push‑up, sit‑up, dan angkat beban ringan.
- Studi intensif materi manasik haji dan tata cara ibadah.
- Pembacaan doa dan wirid harian untuk memperkuat mental.
Selain persiapan fisik, Rizki mendapat dukungan moral yang luar biasa dari lingkungan sekitarnya. Lebih dari dua puluh orang menitipkan doa khusus untuknya, bahkan ada yang menuliskan catatan doa yang akan dibacakan selama berada di Mekah. “Banyak yang nitip doa, bahkan saya sampai ada catatan doa‑doa orang, kurang lebih 20 lebih. Mereka berharap besar karena saya masih muda, jadi contoh mau menyentuh Ka’bah itu bisa dilakukan,” ungkapnya.
Di antara para jemaah muda, terdapat pula Muhammad Farhan Arya Putra, 25 tahun, yang menunggu selama 13 tahun sejak pendaftaran orang tuanya pada 2013. Farhan bersama kakak dan bibinya berangkat dalam kelompok kedua embarkasi Jakarta Pondok Gede, menunjukkan bahwa usia bukan satu‑satunya faktor dalam menunaikan haji, melainkan juga kesabaran dan persiapan matang.
Saat kedatangan di asrama, seluruh jemaah menjalani serangkaian prosedur resmi: pemeriksaan kesehatan, registrasi aktivasi Nusuk sebagai identitas digital resmi Saudi, penerbitan paspor haji, dan penyerahan uang saku sebesar 750 riyal. Petugas khusus juga membantu jamaah lanjut usia, memberikan prioritas pelayanan dan memastikan semua kebutuhan terpenuhi.
Rizki menegaskan bahwa kesempatan menunaikan haji di usia muda merupakan anugerah yang tak boleh disia‑siakan. “Menurut saya ini kesempatan bagus, apalagi masih muda, kondisi fisik masih kuat, jadi bisa menjalankan ibadah dengan maksimal,” katanya. Ia berharap dapat mendampingi ibunya dengan baik, serta memberikan bantuan kepada jamaah senior yang membutuhkan.
Keberangkatan Rizki menambah catatan sejarah haji Indonesia, menjadikannya salah satu jemaah termuda pada musim haji 1447 Hijriah. Cerita ini tidak hanya menginspirasi generasi muda untuk merencanakan ibadah, tetapi juga menyoroti pentingnya kebijakan usia yang fleksibel serta dukungan keluarga dalam mewujudkan impian spiritual.
Dengan persiapan fisik, mental, dan dukungan doa yang melimpah, Rizki Rahman siap menapaki rukun Islam kelima, mengiringi ibunya, dan menorehkan jejak muda yang kuat di Tanah Suci.











