Bencana Alam

Gempa Padang Panjang: Mengenang Seabad Tragedi dan Membangun Ketangguhan

×

Gempa Padang Panjang: Mengenang Seabad Tragedi dan Membangun Ketangguhan

Share this article
Gempa Padang Panjang: Mengenang Seabad Tragedi dan Membangun Ketangguhan
Gempa Padang Panjang: Mengenang Seabad Tragedi dan Membangun Ketangguhan

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 29 Juni 2026 | Hari ini, 28 Juni 2026, merupakan hari bersejarah karena bertepatan dengan seabad peristiwa gempa dahsyat di Padang Panjang, Sumatra Barat. Pada tanggal 28 Juni 1926, gempa dengan magnitudo di atas 6,6 mengguncang Dataran Tinggi Padang, menyebabkan kerusakan parah dan korban jiwa yang banyak.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, Yose Hendra, seorang jurnalis dan peminat sejarah, meluncurkan buku berjudul Gempa Tujuh Hari. Buku ini merupakan hasil riset independen selama 14 tahun terakhir dan berisi informasi tentang gempa tersebut, termasuk skala kerusakan dan korban jiwa.

Gempa pertama terjadi pukul 10.04 WIB pada segmen Sumani dengan magnitudo di atas 6,6. Hanya berselang kurang dari tiga jam, tepatnya pukul 12.56, gempa kedua yang lebih kuat mengguncang segmen Sianok dengan skala intensitas IX MMI. Catatan seismograf Observatorium Batavia menangkap guncangan kedua lebih keras.

Buku Gempa Tujuh Hari merekonstruksi skala kerusakan berdasarkan arsip primer kolonial. Di wilayah Padang Panjang dan sekitarnya, tercatat sedikitnya 2.383 rumah roboh atau rusak berat, dengan korban jiwa mencapai 247 orang. Kantor berita Aneta saat itu memperkirakan kerugian mencapai 10 juta gulden.

Dahsyatnya gempa juga mengubah bentang alam. Longsor raksasa di Lembah Anai menimbun Jalan Raya Pos dan memutus jalur kereta api. Fenomena langka berupa gelombang besar (seiche) juga dilaporkan terjadi di Danau Singkarak yang menghantam tepian danau dan menyeret rumah-rumah warga.

Salah satu temuan penting dalam buku ini adalah perbandingan ketahanan bangunan. Bangunan tembok bergaya kolonial yang kaku banyak yang runtuh, sementara rumah kayu dan Rumah Gadang tradisional Minangkabau terbukti lebih lentur dan mampu bertahan dari guncangan hebat.

Pemerintah Kota Padang Panjang juga menggelar Refleksi Satu Abad Gempa 1926 di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) untuk mengenang sejarah dan memperkuat budaya sadar bencana dan ketangguhan masyarakat.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk membangun budaya mitigasi bencana melalui edukasi kepada masyarakat. Wali Kota Hendri Arnis yang diwakili Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, I Putu Venda, mengatakan bahwa peringatan satu abad gempa tidak sekadar mengenang tragedi masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat akan semangat masyarakat Padang Panjang yang mampu bangkit dari bencana.

Dalam kesimpulan, gempa Padang Panjang merupakan peristiwa bersejarah yang mengingatkan kita tentang pentingnya ketangguhan dan budaya sadar bencana. Dengan mempelajari sejarah dan mengenang peristiwa tersebut, kita dapat membangun masyarakat yang lebih tangguh dan siap menghadapi bencana di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *