OLAHRAGA

Skandal Tendangan Kungfu Fadly Alberto: Dicoret dari Timnas U-19 dan Kehilangan Sponsor

×

Skandal Tendangan Kungfu Fadly Alberto: Dicoret dari Timnas U-19 dan Kehilangan Sponsor

Share this article
Skandal Tendangan Kungfu Fadly Alberto: Dicoret dari Timnas U-19 dan Kehilangan Sponsor
Skandal Tendangan Kungfu Fadly Alberto: Dicoret dari Timnas U-19 dan Kehilangan Sponsor

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 21 April 2026 | Senin, 20 April 2026 – Pelatih Timnas Indonesia U-19, Nova Arianto, memastikan bahwa Fadly Alberto tidak akan tampil dalam Piala AFF U-19 2026 setelah aksi tendangan kungfu yang terjadi pada pertandingan pekan ke-32 Elite Pro Academy (EPA) U-20 antara Bhayangkara FC U-20 dan Dewa United U-20 di Stadion Citarum, Semarang, pada 19 April 2026.

Insiden dimulai ketika Fadly, yang saat itu mengenakan rompi pink dengan nomor punggung 7, melompat ke arah pemain lawan dan melancarkan tendangan tinggi yang mengenai bagian belakang kepala pemain Dewa United. Tendangan tersebut membuat korban terjatuh dan memicu keributan di lapangan. Beberapa rekan setim dan staf pelatih Bhayangkara FC U-20 turut terlibat dalam upaya menenangkan situasi, namun video aksi tersebut cepat viral di media sosial.

Reaksi pertama datang dari Nova Arianto. “Saya sangat kecewa dengan tindakan yang dilakukan oleh Fadly Alberto. Apapun alasannya, tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan, terutama bagi pemain yang pernah membela timnas pada level U-17,” ujarnya dalam konferensi pers di VIVA Medan. Arianto menegaskan bahwa keputusan pencoretan sudah dibahas bersama staf pelatih dan akan menjadi contoh bagi pemain muda lainnya.

Selain konsekuensi sportif, Fadly Alberto juga menghadapi pemutusan sponsor. Perusahaan sponsor utama yang selama ini mendukung karier pemain muda tersebut mengumumkan penghentian kerjasama karena pelanggaran kode etik olahraga. “Kami tidak dapat mendukung perilaku yang membahayakan pemain lain dan mencoreng nama baik sepakbola Indonesia,” kata perwakilan sponsor dalam pernyataan resmi.

Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, mengonfirmasi pencoretan tersebut dan menambahkan bahwa keputusan ini menutup peluang Fadly untuk berpartisipasi dalam Piala AFF U-19 2026. “Fadly Alberto telah masuk dalam daftar 28 pemain yang dipersiapkan untuk turnamen, namun aksi tendangan kungfu yang viral memaksa kami mengambil langkah tegas,” ujar Sumardji melalui akun media sosial resmi.

Kasus ini menimbulkan perdebatan luas di kalangan warganet. Sebagian menilai tindakan Fadly sebagai respons emosional atas dugaan rasisme yang dialami selama pertandingan, sementara yang lain menekankan pentingnya kontrol diri pada pemain usia muda. Beberapa analis mengaitkan insiden ini dengan kurangnya pengawasan wasit dan penegakan disiplin dalam kompetisi EPA.

Fadly Alberto sendiri memberikan permintaan maaf terbuka melalui media sosial, menyatakan bahwa ia menyesal atas tindakan yang telah mencoreng nama timnas Indonesia. “Saya minta maaf kepada rekan-rekan, pelatih, dan seluruh suporter. Saya tidak ingin menjadi contoh negatif bagi generasi muda,” tulisnya.

Dalam upaya memperbaiki situasi, PSSI berencana mengadakan program edukasi mental dan sportivitas bagi semua pemain U-20. Program tersebut akan melibatkan psikolog olahraga, pelatih, serta perwakilan orang tua untuk menekankan pentingnya kontrol emosi di lapangan.

Secara taktik, pencoretan Fadly menimbulkan tantangan bagi Nova Arianto dalam menyusun skuad akhir untuk Piala AFF U-19 2026. Pemain pengganti diharapkan datang dari daftar tunggu, dengan fokus pada pemain yang memiliki disiplin tinggi dan kemampuan teknis yang sebanding. “Kami harus tetap kompetitif, namun tidak mengorbankan nilai sportivitas,” tegas Arianto.

Karier Fadly Alberto, yang pernah menjadi bintang timnas U-17 dan menembus Piala Dunia U-17, kini berada pada persimpangan penting. Dari latar belakang sederhana di Bojonegoro, ia berhasil menginspirasi banyak anak muda, namun satu insiden dapat mengubah persepsi publik dan peluang profesionalnya.

Ke depan, komunitas sepakbola Indonesia diharapkan dapat belajar dari kasus ini, memperkuat regulasi disiplin, dan memberikan dukungan mental yang memadai bagi pemain muda. Sebuah pelajaran berharga bahwa bakat luar biasa harus diimbangi dengan kedewasaan emosional di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *