Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 05 Mei 2026 | Torino kembali berada di titik kritis setelah menelan kekalahan tipis melawan Udinese pada pekan ke-27 Serie A 2025-26. Pertandingan yang berlangsung di Stadio Friuli ini berakhir dengan skor 1-0 untuk tuan rumah, menambah beban psikologis pada skuad yang dipimpin oleh pelatih asal Argentina, Roberto D’Aversa.
Setelah peluit akhir, D’Aversa terlihat tak terkendali. Dalam konferensi pers yang berlangsung di ruang ganti, ia menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi tim untuk kembali bermain seperti pada pertandingan melawan Udine. “Basta partite come a Udine,” tegasnya, menuntut determinasi total dan mengingatkan bahwa setiap kesalahan akan berujung pada konsekuensi yang lebih berat. Pelatih mengungkapkan rencananya untuk melakukan “lavorare sulla testa dei giocatori”, yaitu mengasah mental pemain melalui sesi intensif hingga Jumat sore, menjelang laga berikutnya melawan Sassuolo pada 4 Mei 2026.
Tekanan yang diberikan D’Aversa tidak hanya bersifat taktis, melainkan juga psikologis. Ia menyinggung bahwa pendekatan “martello” akan diterapkan, menekankan pentingnya konsistensi dan keberanian di lapangan. Menurutnya, kegagalan menghadapi Udinese mencerminkan kurangnya fokus dan keberanian dalam mengeksekusi rencana permainan, yang harus segera diperbaiki bila Torino ingin tetap berjuang di zona aman klasemen.
Di luar tekanan internal, klub Torino juga harus menanggapi insiden yang terjadi selama peringatan tragedi Superga. Sebagian suporter menujukkan rasa tidak puas dengan kebijakan klub dan menujukan cercanias, bahkan menyasar Presiden Urbano Cairo dengan komentar kasar. Insiden ini mencerminkan ketegangan antara manajemen klub dan basis pendukungnya, terutama setelah serangkaian hasil yang kurang memuaskan.
Sementara itu, Udinese tidak hanya menonjol di level senior. Tim giovanili Udinese mencatat serangkaian hasil positif selama akhir pekan, menambah optimisme dalam struktur akademi mereka. Prestasi di tingkat muda ini menjadi sinyal bahwa klub memiliki basis bakat yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang, meski belum sepenuhnya berdampak pada performa tim utama.
Statistik pertandingan menegaskan dominasi Udinese di lini tengah, dengan kontrol penguasaan bola mencapai 58% dan akurasi passing 84%. Torino, di sisi lain, gagal menciptakan peluang berbahaya; hanya satu tembakan tepat sasaran dibandingkan dua tembakan Udinese yang mengarah ke gawang. Gol penentu datang dari aksi cepat pemain sayap Udinese yang memanfaatkan ruang di sisi kiri pertahanan Torino.
Dalam menanggapi kekalahan, D’Aversa menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi “partite come a Udine” di masa depan. Ia menambahkan bahwa pemain harus meningkatkan intensitas latihan, memperbaiki transisi pertahanan-ke-serangan, dan meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan di zona akhir. Pelatih juga mengumumkan bahwa skuad akan melakukan evaluasi individual pada setiap pemain, dengan fokus khusus pada lini belakang yang dinilai terlalu rapuh pada laga melawan Udinese.
Menjelang laga melawan Sassuolo, Torino diharapkan akan menampilkan perubahan taktik, termasuk penempatan pemain sayap yang lebih agresif dan peningkatan tekanan tinggi. D’Aversa berharap bahwa pendekatan baru ini dapat memulihkan kepercayaan diri tim dan mengurangi tekanan psikologis yang menumpuk.
Di luar lapangan, klub harus menenangkan suporter yang marah setelah insiden Superga. Manajemen berjanji akan meningkatkan dialog dengan basis pendukung, serta mengambil langkah-langkah untuk memastikan keamanan dan kenyamanan pada acara-acara klub mendatang.
Dengan tiga pertandingan tersisa di musim reguler, Torino berada dalam posisi yang menuntut konsistensi. Kesalahan serupa dengan Udinese harus dihindari, karena setiap poin sangat berharga untuk mengamankan tempat di Serie A. D’Aversa dan para pemain kini berada di persimpangan penting, dimana keputusan taktis dan mental akan menentukan nasib mereka di akhir musim.











