Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 05 Mei 2026 | Keputusan taktis Stefano Pioli untuk menurunkan Ardon Jashari sebagai pengganti Luka Modric dalam laga melawan Sassuolo memicu kegelisahan di antara pendukung AC Milan. Perubahan posisi ini terjadi setelah Modric mengalami cedera minor yang membuatnya absen dari latihan intensif pekan ini. Meskipun Jashari memiliki reputasi sebagai gelandang serba bisa, transisi langsung ke lini tengah Serie A terbukti lebih menantang daripada yang diperkirakan.
Sejak debutnya, Ardon Jashari belum mampu menggerakkan mesin serangan Milan secara konsisten. Pada pertandingan pertama melawan Sassuolo, Jashari terpaksa menanggung tekanan tinggi dari lini depan lawan. Kesalahan dalam penempatan posisi menyebabkan bola berakhir di kaki pemain lawan, yang kemudian menghasilkan gol pertama bagi Sassuolo. Gol tersebut menjadi titik balik, karena sejak itu AC Milan belum mencatat satu kemenangan pun dalam lima laga berikutnya.
Para analis mengamati bahwa kehilangan peran kreatif Luka Modric meninggalkan lubang besar di lini tengah. Modric dikenal dengan kemampuan mengatur tempo permainan, memberikan umpan-umpan terobosan, serta menutup ruang-ruang pertahanan lawan. Tanpa kehadirannya, Jashari harus beradaptasi dengan cepat, namun gaya bermainnya yang lebih mengandalkan fisik dibandingkan visi taktis membuat tim sering kebobolan ruang.
Statistik tim selama periode tersebut menunjukkan penurunan tajam dalam penguasaan bola dan akurasi operan. AC Milan mencatat rata-rata penguasaan hanya 48%, turun dari 55% pada bulan sebelumnya. Selain itu, jumlah tembakan ke gawang menurun dari 12 per pertandingan menjadi 7, sementara jumlah tembakan yang berhasil diblokir lawan meningkat dua kali lipat.
Situasi ini menambah beban mental bagi para pemain. Jashari, yang sebelumnya lebih sering tampil sebagai gelandang bertahan di klub lain, kini menjadi sorotan media sebagai “kambing hitam” atas kegagalan tim mencetak gol. Beberapa kritikus menilai bahwa keputusan melibatkan Jashari terlalu cepat, mengingat belum ada proses adaptasi yang memadai.
Di sisi lain, manajemen klub tetap optimis. Dalam konferensi pers, Pioli menegaskan bahwa perubahan taktik ini bersifat sementara dan bertujuan memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk berkembang. Ia menambahkan bahwa pemulihan Luka Modric dijadwalkan selesai dalam dua minggu, sehingga ekspektasi kembali ke level performa tinggi diharapkan segera terwujud.
Para suporter AC Milan pun terbagi antara harapan dan kekecewaan. Kelompok ultras mengorganisir demonstrasi kecil di San Siro, menuntut klarifikasi mengenai kebijakan transfer dan rotasi pemain. Sementara itu, forum online dipenuhi diskusi tentang potensi Jashari untuk menjadi gelandang inti jika diberikan waktu dan dukungan yang tepat.
Ke depan, AC Milan dijadwalkan menghadapi Juventus dalam derby Serie A berikutnya. Pertandingan ini menjadi ujian penting bagi Jashari dan tim untuk membuktikan kemampuan mereka mengatasi krisis performa. Jika Jashari dapat menampilkan kontribusi positif, ia berpotensi mengukuhkan posisinya sebagai pilihan utama di lini tengah, menggantikan peran yang dulu diemban Luka Modric.
Secara keseluruhan, fase transisi ini menyoroti betapa pentingnya peran seorang gelandang playmaker dalam sistem permainan modern. Kegagalan AC Milan untuk mencatat kemenangan setelah penempatan Ardon Jashari menggarisbawahi tantangan adaptasi pemain baru di level tertinggi. Bagaimanapun, keputusan strategis klub akan terus dipantau, terutama menjelang laga penentu yang dapat mengubah arah musim mereka.











