Otomotif

Diesel Primus Tembus Rp 30.890/Liter: Kenaikan Harga yang Mengguncang Pengguna dan Industri

×

Diesel Primus Tembus Rp 30.890/Liter: Kenaikan Harga yang Mengguncang Pengguna dan Industri

Share this article
Diesel Primus Tembus Rp 30.890/Liter: Kenaikan Harga yang Mengguncang Pengguna dan Industri
Diesel Primus Tembus Rp 30.890/Liter: Kenaikan Harga yang Mengguncang Pengguna dan Industri

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 06 Mei 2026 | Jakarta, 6 Mei 2026 – Harga bahan bakar diesel non‑subsidi di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta mengalami lonjakan signifikan pada awal bulan Mei. Produk Diesel Primus Plus milik SPBU Vivo resmi dinaikkan menjadi Rp 30.890 per liter, menandai titik tertinggi sejak awal tahun. Kenaikan serupa juga terjadi pada BP Ultimate Diesel yang kini dipatok pada level yang sama.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menanggapi situasi ini dalam sebuah konferensi pers di Istana Kepresidenan. Ia menegaskan bahwa penyesuaian harga BBM untuk segmen industri atau konsumen berkemampuan tinggi bersifat market‑driven dan sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM tahun 2022. Sementara itu, Bahlil menegaskan kembali bahwa BBM bersubsidi, termasuk bensin, solar, dan LPG, tidak akan mengalami kenaikan.

Data resmi yang dihimpun dari tiga jaringan SPBU utama – Pertamina, BP, dan Vivo – memperlihatkan pola kenaikan yang konsisten. Pada 4 Mei 2026, harga diesel non‑subsidi di SPBU Pertamina (produk Dexlite dan Pertamina Dex) berada di kisaran Rp 26.000‑Rp 27.900 per liter. Namun, harga diesel di SPBU swasta melampaui Rp 30.000 per liter, menciptakan kesenjangan yang terasa oleh pengguna kendaraan komersial dan armada industri.

Berikut rangkuman harga diesel pada 4‑5 Mei 2026:

SPBU Produk CN Harga (Rp/liter)
Vivo Diesel Primus Plus 51 30.890
BP Ultimate Diesel 53 30.890
Pertamina Dexlite 51 26.000
Pertamina Pertamina Dex 53 27.900

Lonjakan harga Diesel Primus Plus dari Rp 14.610 per liter pada 1 Maret 2026 menjadi Rp 30.890 per liter pada 4 Mei 2026 menandakan peningkatan sebesar Rp 16.280 per liter dalam dua bulan. Kenaikan tersebut setara dengan 111% dari harga awal, mengindikasikan tekanan pasar yang signifikan, terutama pada sektor logistik, transportasi barang, dan konstruksi.

Pengguna kendaraan pribadi yang mengandalkan diesel, seperti pemilik truk ringan dan mobil pick‑up, kini menghadapi beban biaya operasional yang lebih tinggi. Menurut pengamatan di lapangan, sejumlah pengemudi mengalihkan penggunaan ke kendaraan berbahan bakar bensin atau mencari alternatif bahan bakar yang lebih ekonomis. Di sisi lain, operator armada besar mulai meninjau kembali rute dan beban muatan untuk mengoptimalkan konsumsi bahan bakar.

Para ahli ekonomi energi menilai bahwa kenaikan harga diesel ini dipicu oleh kombinasi faktor global, termasuk naiknya harga minyak mentah di pasar internasional dan penyesuaian nilai tukar rupiah. Sementara kebijakan subsidi tetap mempertahankan harga solar bersubsidi pada Rp 6.800 per liter, tekanan inflasi tetap dirasakan pada segmen non‑subsidi.

Untuk mengurangi dampak negatif, pemerintah melalui Kementerian ESDM mengingatkan konsumen agar memanfaatkan program efisiensi bahan bakar, seperti penggunaan teknologi injeksi langsung dan pemeliharaan mesin yang tepat. Selain itu, Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa regulasi harga BBM akan terus dipantau untuk memastikan tidak terjadi spekulasi berlebihan di pasar.

Secara keseluruhan, kenaikan harga Diesel Primus Plus menjadi indikator perubahan struktural dalam pasar BBM non‑subsidi Indonesia. Pengguna diharapkan menyesuaikan strategi konsumsi, sementara regulator tetap berupaya menjaga stabilitas harga dan pasokan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *