Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 06 Mei 2026 | Di tengah persaingan Serie A yang semakin sengit, Lazio menorehkan beberapa sorotan penting yang melampaui lapangan hijau. Warisan taktik pelatih legendaris Maurizio Sarri masih terasa kuat, sementara gelandang muda asal Nigeria, Fisayo Dele‑Bashiru, menarik perhatian tiga klub Premier League. Di luar sepak bola, wilayah Lazio menjadi tuan rumah Hari Regional tentang Kecanduan Digital, sebuah inisiatif yang menyoroti tantangan generasi muda dalam era teknologi.
Setelah pertemuan melawan Cremonese yang berakhir dengan skor imbang, analis mengidentifikasi tiga pelajaran utama. Pertama, filosofi permainan menyerupai “Sarri‑style” – pressing tinggi, pergerakan bola cepat, dan penekanan pada penguasaan ruang – tetap menjadi landasan taktik Lazio. Kedua, pemain muda seperti Dele‑Bashiru menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa, meski belum mendapatkan banyak menit bermain. Ketiga, mentalitas tim yang dibangun oleh Sarri terus menginspirasi para pemain senior, menjadikan warisan sang pelatih tetap hidup meski ia telah meninggalkan klub.
Dele‑Bashiru, yang bergabung dari Hatayspor pada 2024, kini berada di tengah pusaran transfer musim panas. Sky Sports melaporkan bahwa tiga klub Premier League – tanpa menyebut nama – tengah memantau performanya. Meskipun masih memiliki dua tahun kontrak dengan Lazio, pemain berusia 24 tahun dinyatakan terbuka untuk kepindahan ke Inggris. Penampilannya dalam laga melawan Udinese, di mana ia masuk pada babak pertama dan menambah kekuatan fisik di lini tengah, menjadi faktor penting yang menarik minat klub-klub Inggris.
Manajer Lazio, Maurizio Sarri, mengakui kontribusi Dele‑Bashiru tetapi juga menegaskan pentingnya konsistensi tim. “Kami memasuki pertandingan dengan banyak ketegangan, terutama pada 30 menit pertama. Namun, pada babak kedua tim menunjukkan peningkatan kualitas yang signifikan, termasuk peran Dele‑Bashiru yang membantu menstabilkan lini tengah,” ujar Sarri dalam konferensi pers pasca pertandingan.
Sementara itu, Lazio bersiap menghadapi final Coppa Italia melawan juara Serie A, Inter Milan. Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang prestisius, tetapi juga kesempatan bagi para pemain untuk mengukir sejarah tambahan di atas nama klub. Antusiasme suporter meningkat, terutama setelah keberhasilan tim dalam kompetisi domestik dan Eropa.
Di luar arena olahraga, 6 Mei 2026 menandai peluncuran Hari Regional tentang Kecanduan di Roma, sebuah acara yang diinisiasi oleh Pemerintah Daerah Lazio melalui Undang‑Undang Regional No. 5/2025. Acara tersebut menampilkan hasil riset institusi Piepoli tentang kecanduan digital di kalangan anak-anak dan remaja. Penelitian melibatkan 500 orang tua dengan anak usia 6‑18 tahun, mengungkapkan bahwa 83 % remaja rutin menggunakan smartphone, dengan persentase tertinggi (96 %) pada kelompok usia 17‑18 tahun.
Temuan utama riset meliputi:
- Penggunaan perangkat meningkat seiring usia; anak usia 6‑10 tahun masih lebih banyak mengakses permainan video, sedangkan remaja 13‑18 tahun lebih banyak menggunakan media sosial dan aplikasi chat.
- Konflik keluarga terkait penggunaan teknologi terjadi pada 40 % orang tua, dengan puncak pada usia 11‑13 tahun (53 %).
- Gejala potensial kecanduan digital terdeteksi pada 36 % anak: penggunaan berlebihan, iritabilitas bila tidak memiliki akses, gangguan tidur, penurunan prestasi akademik, dan isolasi sosial.
Walaupun mayoritas orang tua (75 %) menilai pendekatan edukatif mereka cukup, hanya 41 % yang merasa mendapat dukungan yang memadai dari sekolah, dan 36 % dari layanan kesehatan. Kebutuhan utama yang diidentifikasi adalah pelatihan keluarga (47 %), intervensi sekolah (30 %), dan dukungan psikologis (20 %).
Para pejabat menekankan pentingnya jaringan lintas sektor. Presiden Lazio, Francesco Rocca, bersama Menteri Sekretaris, Alfredo Mantovano, menegaskan bahwa kolaborasi antara institusi, sekolah, layanan kesehatan, dan organisasi masyarakat merupakan kunci untuk mengatasi kecanduan perilaku. Antonio De Napoli, ketua ASP ISMA, menambahkan bahwa acara ini bukan sekadar simbolik, melainkan langkah awal menuju program berkelanjutan yang menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan digital.
Dengan kombinasi prestasi di lapangan dan inisiatif sosial di luar lapangan, Lazio menunjukkan kemampuan beradaptasi dan komitmen terhadap perkembangan komunitas. Baik dalam menjaga warisan taktik Sarri, mempromosikan bakat muda seperti Dele‑Bashiru, maupun mengedukasi publik tentang kecanduan digital, Lazio terus menjadi titik fokus penting di Italia.
Ke depan, penggemar menantikan penampilan Lazio di final Coppa Italia serta keputusan transfer Dele‑Bashiru yang dapat mengubah dinamika tim. Sementara itu, upaya pencegahan kecanduan digital di wilayah Lazio diharapkan menjadi model bagi daerah lain di Italia.











