Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 28 Juni 2026 | Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) yang sudah dikenal selama puluhan tahun kini secara resmi berganti nama menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS). Perubahan nama ini bukan hanya sekedar perubahan istilah, tetapi juga mengubah cara dokter menegakkan diagnosis sehingga pasien tidak lagi hanya dinilai dari hasil USG.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi, dr. Agus Heriyanto, Sp.OG, Subsp. FER, MARS, MM, menjelaskan bahwa selama ini banyak perempuan terlambat mendapatkan penanganan karena fokus pemeriksaan hanya tertuju pada keberadaan kista. Padahal, sekitar 70 persen pasien terlambat ditangani hanya karena mereka tidak memiliki kista saat diperiksa.
Menurut dr. Agus, PCOS/PMOS sebenarnya bukan penyakit kista, melainkan sebuah gangguan sistem metabolisme dan hormon yang berdampak pada organ reproduksi. Oleh karena itu, diagnosis kini berfokus pada gangguan hormon dan metabolisme, bukan hanya kista.
Perubahan nama ini juga membantu menjelaskan mengapa banyak perempuan dengan PCOS/PMOS mengalami kesulitan dalam mengelola berat badan. Dr. Neha Shah, seorang spesialis penurunan berat badan, menjelaskan bahwa PMOS dapat memengaruhi fungsi insulin, membuat tubuh lebih cenderung menyimpan lemak, terutama di sekitar perut.
Selain itu, berat badan berlebih, terutama lemak visceral, dapat memperburuk resistensi insulin dan ketidakseimbangan hormon, sehingga memperburuk kondisi PMOS. Dengan demikian, perubahan nama dari PCOS menjadi PMOS membantu memahami bahwa kondisi ini bukan hanya terkait dengan kista di ovarium, tetapi juga dengan gangguan metabolisme dan hormon yang lebih luas.
Inositol, sebuah suplemen yang sedang populer, juga telah dikaitkan dengan manfaat bagi perempuan dengan PMOS atau jerawat hormonal. Namun, perlu diingat bahwa klaim-klaim online tentang suplemen ini seringkali tidak didukung oleh bukti ilmiah yang cukup.
Dalam menghadapi PMOS, penting untuk memahami bahwa kondisi ini memerlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk perubahan gaya hidup, pengelolaan berat badan, dan terapi hormonal jika diperlukan. Dengan memahami PMOS sebagai sindrom metabolik yang memengaruhi ovarium, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mengelola kondisi ini dan meningkatkan kualitas hidup perempuan yang terkena.











