Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 10 Mei 2026 | Hantavirus merupakan sebuah virus yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat adanya 23 kasus hantavirus strain Seoul Virus di sejumlah wilayah Indonesia selama periode 2024 hingga 2026. Dari total kasus tersebut, tiga pasien meninggal dunia dan 20 lainnya dinyatakan sembuh.
Dengan jumlah itu, case fatality rate (CFR) hantavirus di Indonesia tercatat mencapai 13 persen. Adapun, tren kasus menunjukkan peningkatan signifikan terjadi pada 2025 dengan total 17 kasus terkonfirmasi. Sementara pada 2024 hanya tercatat satu kasus dan pada 2026 sejauh ini terdapat lima kasus.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman memastikan, lima kasus yang terdeteksi di Indonesia pada tahun ini tidak berkaitan dengan wabah hantavirus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius. Ia juga memastikan hingga saat ini belum ada penambahan kasus hantavirus terkonfirmasi di Indonesia setelah sebelumnya ditemukan dua suspek di Jakarta Utara dan Kulon Progo, DI Yogyakarta, yang kini dinyatakan negatif.
Kemenkes menyebut seluruh kasus konfirmasi di Indonesia mengarah pada Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) atau demam berdarah dengan sindrom ginjal yang didominasi strain Seoul Virus. Faktor risiko utama penularan hantavirus adalah kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urine, air liur, kotoran, maupun sekresi hewan tersebut.
Dalam penilaian risiko Indonesia tahun 2025, Kemenkes menilai risiko importasi kasus tipe HPS pada manusia berada pada kategori sedang. Sementara itu, risiko penambahan kasus tipe HFRS pada manusia masuk kategori tinggi. Selain itu, Kemenkes juga mencatat tiga kematian pada kasus hantavirus terkonfirmasi dipengaruhi kondisi lain atau ko-infeksi, seperti leptospirosis, kanker hati, dan kegagalan multiorgan.
Aji menegaskan bahwa hingga kini belum ditemukan kasus hantavirus yang menular antarmanusia di Indonesia seperti yang dilaporkan pada wabah di kapal pesiar MV Hondius, yakni jenis Andes virus. Kasus seperti itu sangat jarang terjadi. Makanya sampai saat ini penilaian risiko WHO juga masih rendah.
Sementara itu, WHO menyebut strain Andes yang ditemukan di sejumlah wilayah Amerika Latin menjadi satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia dalam jumlah terbatas.
Kemenkes berharap masyarakat dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan hewan yang terinfeksi untuk mencegah penularan hantavirus. Dengan demikian, risiko penularan hantavirus dapat diminimalkan dan kasus hantavirus di Indonesia dapat ditangani dengan efektif.











