Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 18 April 2026 | Film horor terbaru Warner Bros., Lee Cronin’s The Mummy, mengundang perdebatan sengit sejak penayangannya pada bulan April 2026. Diproduksi oleh Blumhouse, film ini dijanjikan sebagai kebangkitan kembali tema mumi dalam sinema modern, namun kenyataannya justru menimbulkan kebingungan karena judul yang tampak menyesatkan dan narasi yang berliku.
Lee Cronin, yang sebelumnya dikenal lewat Evil Dead Rise, kembali menata dirinya sebagai penulis‑direktur. Meskipun namanya masih relatif baru di kalangan mainstream, Cronin berhasil mengukir reputasi sebagai pembuat film horor yang berani mengambil risiko. Namun, dalam The Mummy, ia tampaknya kehilangan arah. Kritik utama terpusat pada ketidakjelasan alur cerita yang melompat‑lompat antara beberapa lini waktu dan karakter yang tidak konsisten.
Awal film menampilkan sebuah keluarga Mesir yang tampak ceria, namun segera beralih ke keluarga Amerika yang tinggal di Kairo. Karakter utama, Charlie Cannon (diperankan Jack Reynor), seorang jurnalis yang berusaha menata kehidupan baru bersama istri hamilnya, Larissa (Laia Costa), serta anak‑anak mereka, menjadi fokus utama. Namun, seiring berjalannya cerita, penonton diperkenalkan kembali dengan Detective Dalia Zaki (May Calamawy) yang ditugaskan menemukan anak perempuan mereka yang hilang, Katie. Pada titik ini, narasi beralih lagi ke generasi berikutnya dengan munculnya karakter‑karakter baru seperti Sebastián (Shylo Molina) dan Maud (Billie Roy), serta penampakan kembali Katie (Natalie Grace) yang kini berubah menjadi sosok menyeramkan dengan kebiasaan memakan serangga.
Penggabungan elemen kepemilikan tubuh (possession) dengan balutan pita mumi menciptakan sebuah film yang tampaknya berupaya menjadi “by‑the‑numbers” horror tanpa memberikan inovasi signifikan. Kritik dari CBC News menilai film ini “needlessly mean‑spirited” dan “barely about mummies”, menyoroti bahwa tema mumi hampir tidak muncul secara eksplisit. Sementara itu, Los Angeles Times menambahkan bahwa produksi ini terasa seperti proses “embalming by committee”, menunjukkan bahwa keputusan kreatif tampak terpecah‑pecah di antara banyak pihak.
Selain masalah naratif, kritik juga diarahkan pada pilihan produksi. Meskipun film ini berlabel Blumhouse dan Warner Bros., tidak ada hubungan langsung dengan waralaba The Mummy milik Universal yang dikenal dengan Brendan Fraser pada tahun 1999 atau reboot Dark Universe 2017. Hal ini menambah kebingungan penonton yang mengharapkan adanya kaitan atau setidaknya referensi nostalgia. Sebagai gantinya, penonton disuguhkan plot yang lebih mengarah pada drama keluarga yang terjebak dalam kutukan kuno, tanpa adanya elemen mumi yang kuat.
Respons penonton terbagi. Sebagian menganggap film ini sebagai “night‑out generic horror” yang cocok untuk penonton yang ingin menonton sesuatu yang ringan tanpa ekspektasi tinggi. Sementara itu, kritikus film menilai The Mummy sebagai kegagalan dalam menggabungkan elemen horor tradisional dengan inovasi modern. Penilaian akhir cenderung negatif, dengan banyak ulasan menyoroti bahwa film ini lebih mengandalkan shock value daripada pembangunan atmosfer yang menakutkan.
Secara keseluruhan, Lee Cronin’s The Mummy menjadi contoh bagaimana sebuah judul yang menarik dapat menimbulkan ekspektasi tinggi, namun realisasinya tidak memenuhi harapan. Film ini menunjukkan bahwa tidak cukup sekadar menempelkan nama ikonik pada sebuah karya; diperlukan konsistensi cerita, kejelasan visi kreatif, serta penghormatan pada warisan genre yang diangkat. Bagi penikmat horor, film ini mungkin layak ditonton sekadar untuk menilai evolusi gaya Cronin, namun bagi mereka yang mencari pengalaman mumi yang otentik, film ini jelas mengecewakan.









