Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 27 Juni 2026 | Perekonomian Indonesia menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah ketidakpastian global. Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren penguatan setelah sebelumnya mengalami tekanan.
Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin dalam dua bulan terakhir. Langkah ini dinilai efektif dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan bahwa kenaikan BI Rate diperlukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi serta menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran pemerintah.
Ekonom menilai kebijakan BI sejauh ini cukup efektif mencapai tujuan utamanya, yakni menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menilai bahwa langkah BI masih relevan meskipun risiko global mulai mereda setelah tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
Aliran modal asing masuk secara neto sebesar US$3,9 miliar pada triwulan II 2026 hingga pertengahan Juni, menunjukkan perbaikan setelah BI memperketat kebijakan moneternya. Nilai tukar rupiah juga menunjukkan tren penguatan, dengan rupiah tercatat berada di level Rp17.730 per dolar Amerika Serikat (US$) atau menguat 0,76% dibandingkan posisi akhir Mei 2026.
Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, membedah faktor utama di balik pemulihan pasar keuangan domestik. Menurutnya, pemulihan pasar keuangan domestik yang dimulai sejak awal Juni 2026 dipicu oleh koordinasi solid dan komunikasi yang jelas dari otoritas moneter dan fiskal kepada para pelaku pasar.
Fakhrul menekankan pentingnya menyelaraskan indikator makroekonomi dengan realitas di tingkat mikro agar dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia mencontohkan bahwa pertumbuhan 5,6% harus diterjemahkan dengan ketersediaan sembako yang cukup dan mudah didapat di pasar.
Kesimpulan: Perekonomian Indonesia menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah ketidakpastian global. Kebijakan BI dan Kemenkeu dinilai efektif dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Namun, perlu diingat bahwa indikator makroekonomi harus diselaraskan dengan realitas di tingkat mikro agar dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.











