Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 13 Mei 2026 | Rupiah telah menembus level terendah sepanjang sejarah, yakni Rp17.500-an per dolar AS. Pelemahan rupiah diperparah dengan rilisnya hasil rebalancing indeks dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), di mana sebanyak 6 saham Indonesia terdepak dari Global Standard Index, dan sebanyak 13 saham terdepak dari Global Small Cap Index.
Menurut Pendiri/Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, pelemahan rupiah menjadi tantangan besar, ditambah lagi dengan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang rentan. Pemerintah dilihat terjebak dalam dilema besar untuk menarik minat investor agar tetap bertahan di pasar domestik.
Salah satu strategi yang diambil adalah dengan mendorong penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dengan imbal hasil yang sangat tinggi, bahkan diprediksi bisa menembus angka 7 persen. Namun, langkah ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, yield tinggi bisa menarik modal masuk, tetapi di sisi lain, hal ini menjadi beban bunga utang yang sangat nyata bagi APBN.
Bank Indonesia (BI) memastikan terus melakukan berbagai upaya intervensi dan memperkirakan tren pelemahan rupiah akan segera mereda. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena situasi di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas meningkat mendorong kenaikan harga minyak dan ketidakpastian global.
Kondisi ini dikhawatirkan akan membuat keseimbangan primer semakin melebar dan membuat postur fiskal Indonesia menjadi tidak produktif, serta rentan terhadap guncangan. Tekanan tidak hanya berhenti pada beban bunga, tetapi juga merembet ke sektor perbankan domestik.
BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya. Rupiah telah menembus level Rp 17.500 per dolar AS, tertinggi sepanjang sejarah.
Dalam menghadapi tantangan ini, pemerintah dan BI perlu melakukan berbagai langkah strategis untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dengan demikian, diharapkan ekonomi Indonesia dapat kembali tumbuh dan berkembang dengan stabil.









