Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 08 Juli 2026 | Saat ini, rupiah mengalami melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada awal perdagangan hari ini, rupiah dibuka di level Rp 17.987 per dolar AS, melemah 0,04% atau 7 poin. Hingga pukul 09.15, rupiah kian melemah berada di level Rp 17.994 per dolar AS, melemah 0,08% atau 14 poin.
Menurut analis, rupiah berpeluang menguat secara terbatas terhadap dolar AS setelah Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa meningkat pada akhir Juni. Namun, investor masih mengantisipasi rilis indeks kepercayaan konsumen siang ini yang diperkirakan akan meningkat. Eskalasi geopolitik di Timur Tengah bisa menekan rupiah.
Di sisi lain, pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah faktor penggerak indeks harga saham gabungan (IHSG) dari eksternal, seperti laporan MSCI hingga tren suku bunga global. Sementara itu, dari dalam negeri, pergerakkan nilai tukar rupiah, kinerja laba emiten, serta stabilitas ekonomi domestik akan membayangi laju IHSG.
MSCI dalam laporannya memutuskan untuk mempertahankan pembekuan perlakuan terhadap saham RI dalam review Agustus 2026. MSCI menegaskan bahwa pembatasan terhadap pasar modal RI belum berubah meskipun evaluasi klasifikasi pasar telah usai dilakukan.
Bank Indonesia juga menyatakan bahwa keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga. Survei Konsumen Bank Indonesia pada Juni mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga, dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 yang berada pada level optimis sebesar 117,8.
BI juga memperkuat pengembangan Usaha Mikro Kecil, dan Menengah (UMKM) agar semakin berdaya saing. Pada 2025, omzet UMKM binaan Bank Indonesia mencapai Rp 7,02 triliun atau tumbuh 23,1% (yoy), dengan pertumbuhan tertinggi pada omzet UMKM ekspor (21%) dan UMKM Digital (25%).
Dalam beberapa hari terakhir, rupiah terus mengalami tekanan. Rupiah diperkirakan bergerak terbatas pada perdagangan hari ini, dengan sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakannya, seperti tarik-menarik sentimen positif dari kenaikan cadangan devisa Indonesia dan tekanan eksternal akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi suku bunga tinggi di AS.
Kesimpulan, rupiah melemah terhadap dolar AS, IHSG terkoreksi, dan prospek ekonomi Indonesia masih membayangi laju IHSG. Faktor-faktor eksternal dan domestik akan memengaruhi pergerakan rupiah dan IHSG, sehingga pelaku pasar harus tetap waspada dan mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi.











