Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 21 April 2026 | Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) bersama Toyota Motor Asia mengumumkan rencana pembangunan pabrik bioetanol pertama di Indonesia yang akan berlokasi di provinsi Lampung. Proyek strategis ini dijadwalkan dimulai pada kuartal III atau IV 2026 dan diharapkan siap beroperasi pada tahun 2028 dengan kapasitas produksi awal mencapai 60.000 kiloliter per tahun.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi serta Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, menegaskan bahwa inisiatif ini selaras dengan kebijakan pemerintah mengenai pencampuran bahan bakar etanol E10 yang wajib diterapkan pada tahun 2028. “Pembangunan pabrik bioetanol ini memperkuat fondasi industri energi bersih dalam negeri dan mendukung target diversifikasi bauran energi,” ujarnya dalam konferensi pers di kantor BKPM, Jakarta Selatan.
Lampung dipilih sebagai lokasi utama karena memiliki potensi besar sebagai sumber bahan baku (feedstock) bioetanol. Daerah ini menyuplai tebu, ubi, singkong, sorgum, dan aren secara melimpah. Selain itu, proyek mencakup pengembangan lahan seluas 6.000 hektare khusus untuk penanaman sorgum, yang akan menjadi salah satu bahan baku utama dalam skema produksi multi‑feedstock.
Teknologi yang akan dipakai adalah generasi kedua (2G) yang memungkinkan pemanfaatan limbah pertanian seperti residu tebu, ubi, dan singkong. Kolaborasi riset dengan Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (RA‑BIT) dari Jepang, serta dukungan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI), diharapkan mempercepat transfer teknologi dan membuka peluang pembangunan fasilitas riset di Indonesia.
Investasi total proyek masih dalam proses perhitungan akhir. Konsultan independen tengah menyiapkan studi kelayakan, sementara nilai running cost dan estimasi investasi masih dirahasiakan. Namun, pihak terkait menyatakan komitmen finansial kuat dari kedua belah pihak, mengingat potensi pasar bioetanol yang diproyeksikan akan tumbuh signifikan seiring dengan kebijakan mandatori E10.
CEO Toyota Motor Asia, Masahiko Maeda, menambahkan bahwa bioetanol yang dihasilkan akan dapat diintegrasikan ke dalam beragam tipe kendaraan yang diproduksi Toyota, mulai dari mobil penumpang hingga kendaraan komersial. “Kami siap menyediakan bahan bakar bersih yang kompatibel dengan teknologi mesin kami, sehingga konsumen dapat menikmati mobilitas yang lebih ramah lingkungan,” ujar Maeda.
- Kapasiitas produksi: 60.000 KL/tahun
- Lokasi: Lampung, Indonesia
- Feedstock utama: tebu, ubi, singkong, sorgum, aren
- Teknologi: bioetanol generasi kedua (2G)
- Investasi: dalam tahap perhitungan
Pembangunan pabrik bioetanol ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam upaya Indonesia mencapai swasembada energi terbarukan. Selain mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, proyek ini juga membuka lapangan kerja baru di sektor pertanian, manufaktur, dan riset. Dengan mengoptimalkan limbah pertanian, pabrik akan berkontribusi pada pengurangan emisi karbon serta mendukung program pengelolaan sampah organik.
Namun, ada keprihatinan bahwa peningkatan permintaan bahan baku bioetanol dapat memengaruhi harga pangan domestik. Todotua Pasaribu mengakui potensi kenaikan harga pangan, namun menekankan bahwa penggunaan teknologi 2G akan meminimalkan dampak tersebut karena memanfaatkan limbah daripada lahan pertanian utama.
Secara keseluruhan, kolaborasi antara Pertamina dan Toyota menandai langkah maju dalam transisi energi Indonesia. Dengan target produksi 60.000 KL per tahun, pabrik bioetanol di Lampung tidak hanya akan memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga memperluas pasar ekspor biofuel, menjadikan Indonesia pemain utama dalam industri bioetanol global.











