Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 20 Juni 2026 | Harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia telah mengalami penyesuaian pada Juni 2026. PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, Pertamina Patra Niaga, menaikkan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green 95 di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) tanah air. Kini, Pertamax (RON 92) dijual dengan harga Rp 16.250 per liter dari sebelumnya hanya Rp 12.300 per liter, sedangkan Pertamax Green (RON 95) melonjak dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter.
Penyesuaian serentak tersebut membuat sebagian masyarakat mulai membandingkan harga bahan bakar di Indonesia dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara guna mengukur beban biaya hidup harian. Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya menegaskan, harga Pertamax di Indonesia masih jauh lebih murah dibandingkan dengan negara lain. Di Indonesia, harga Pertamax yang merupakan RON 92 dipatok Rp 16.250 per liter, bandingkan dengan harga BBM RON 92/95 di Filipina yang bisa mencapai Rp 22.158, di Laos Rp 31.945, di Thailand Rp 28.910, di Myanmar Rp 25.085, sementara di Singapura menyentuh level Rp 42.971.
Pertamina menaikkan harga BBM non-subsidi karena harga minyak dunia sudah naik drastis sejak Maret 2026. PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) meyakini pasar kendaraan listrik nasional masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar pada tahun ini, terutama di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berpotensi mendorong masyarakat mencari alternatif mobilitas yang lebih efisien.
Riwayat harga BBM di Indonesia dari masa ke masa terus bergejolak karena pernah naik, tetapi beberapa kesempatan sempat turun cukup drastis. Ada banyak faktor yang memengaruhinya, seperti kebijakan pemerintah hingga kondisi ekonomi global. Pada era Presiden Soekarno, harga BBM sempat naik sebanyak dua kali. Kenaikan pertama terjadi pada 22 November 1965, di mana BBM Premium naik Rp 0,3 per liter dan solar naik ke Rp 0,2 per liter. Kenaikan kedua terjadi pada 3 Januari 1966, di mana BBM Premium naik ke Rp 1,00 per liter dan solar meroket ke Rp 0,80 per liter.
Di era Presiden Joko Widodo, harga BBM sempat turun karena kebijakan subsidi energi. Namun, pada era Presiden Prabowo, harga BBM kembali naik signifikan karena tekanan harga minyak global dan konflik geopolitik internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, harga BBM di Indonesia terus berfluktuasi, terutama karena kebijakan pemerintah dan kondisi ekonomi global.
Kesimpulan, harga BBM di Indonesia masih relatif murah dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Namun, perlu diingat bahwa harga BBM dapat berubah-ubah tergantung pada kebijakan pemerintah dan kondisi ekonomi global. Oleh karena itu, masyarakat perlu terus memantau informasi terkini tentang harga BBM dan mempertimbangkan alternatif mobilitas yang lebih efisien.











