Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 26 Mei 2026 | Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menyatakan bahwa ekonomi Indonesia saat ini jauh dari situasi krisis seperti yang terjadi pada 1997 dan 1998. Menurutnya, indikator fiskal, neraca pembayaran, dan sistem keuangan tetap terjaga.
Secara historis, krisis ekonomi umumnya muncul dari tiga sumber utama, yaitu fiskal, neraca pembayaran, dan sistem keuangan. Namun, tanda-tandanya hingga saat ini belum terlihat dalam perekonomian Indonesia.
Juda mencontohkan krisis yang terjadi di Amerika Latin pada 1980-an, yang muncul ketika defisit fiskal membengkak dan pemerintah tidak lagi mampu memperoleh pembiayaan karena investor kehilangan kepercayaan. Sementara di Indonesia, defisit fiskal saat ini masih dijaga di bawah 3 persen dan pembiayaan APBN tetap dipercaya investor domestik maupun asing.
Selain itu, krisis seperti pada 1997-1998 terjadi ketika banyak perusahaan menarik pinjaman luar negeri dalam jumlah besar. Saat nilai tukar melemah dan terjadi sudden stop, banyak perusahaan kolaps karena tidak mampu membayar utang luar negeri sehingga neraca pembayaran mengalami tekanan berat. Namun, menurut Juda, kondisi neraca pembayaran Indonesia saat ini masih relatif sehat dan seimbang.
Wamenkeu Juda Agung juga menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tetap tumbuh kuat, dengan pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Inflasi juga masih terjaga yakni pada level 2,42 persen pada April 2026. Sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi, konsumsi rumah tangga juga tumbuh tinggi yakni 5,52 persen pada triwulan I 2026.
Di sisi lain, pengeluaran pemerintah juga tumbuh tinggi sebesar 22 persen. Hal ini menunjukkan kebijakan fiskal masih bekerja dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat. Dengan demikian, ekonomi Indonesia dapat dikatakan jauh dari krisis ekonomi seperti yang terjadi pada 1997 dan 1998.
Kondisi ekonomi Indonesia saat ini juga didukung oleh data APBN hingga Mei 2026, yang menunjukkan pertumbuhan pendapatan negara dan pajak yang signifikan disertai defisit terkendali. Pemerintah terus menjaga kedisiplinan fiskal melalui APBN yang ekspansif dan terukur di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ekonomi Indonesia saat ini jauh dari situasi krisis seperti yang terjadi pada 1997 dan 1998. Kondisi fiskal, neraca pembayaran, dan sistem keuangan tetap terjaga, dan pertumbuhan ekonomi tetap kuat. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir tentang kemungkinan krisis ekonomi di Indonesia.











