Ekonomi

Bank Dunia Mengalami Perubahan: Dolar AS Terlalu Berisiko, Bank Sentral Beralih ke Euro, Renminbi, dan Emas

×

Bank Dunia Mengalami Perubahan: Dolar AS Terlalu Berisiko, Bank Sentral Beralih ke Euro, Renminbi, dan Emas

Share this article
Bank Dunia Mengalami Perubahan: Dolar AS Terlalu Berisiko, Bank Sentral Beralih ke Euro, Renminbi, dan Emas
Bank Dunia Mengalami Perubahan: Dolar AS Terlalu Berisiko, Bank Sentral Beralih ke Euro, Renminbi, dan Emas

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 02 Juli 2026 | Bank sentral di seluruh dunia mulai meninggalkan dolar AS sebagai pilihan investasi mereka. Survei Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) menunjukkan bahwa lebih banyak bank sentral yang berencana mengurangi kepemilikan dolar AS mereka daripada meningkatkannya dalam dekade berikutnya. Hal ini mencerminkan peningkatan risiko politik yang terkait dengan mata uang AS.

Perang di Timur Tengah yang sebagian dimulai oleh Amerika Serikat (AS) dan kebijakan tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump menunjukkan agenda kebijakan luar negeri AS yang semakin tidak dapat diprediksi. OMFIF melaksanakan survei terhadap 74 bank sentral di seluruh dunia pada periode Maret hingga Mei 2026 dan menemukan keinginan bank sentral untuk mengurangi alokasi dolar AS melebihi niat untuk meningkatkannya sejak survei tersebut dimulai pada tahun 2023.

Temuan ini merupakan indikasi terbaru dari pergeseran global menjauh dari dolar (dedolarisasi) yang mencakup pengurangan penggunaan dolar AS dalam perdagangan global dan transaksi keuangan. Dedolarisasi akan mengurangi permintaan terhadap mata uang tersebut dan nilainya. Menurut JPMorgan, pangsa dolar AS dalam cadangan devisa bank sentral turun ke level terendah dalam dua dekade terakhir.

Dolar AS masih mendominasi portofolio bank sentral dan diperkirakan akan tetap demikian untuk masa mendatang. Namun, dedolarisasi yang “bertahap” membuat bank sentral beralih ke euro dan renminbi. Hampir semua bank sentral yang disurvei berpendapat renminbi memberikan diversifikasi. Adapun dua pertiga responden mengatakan euro menjadi lebih menarik untuk digunakan dalam perdagangan global, naik dari 43% tahun lalu.

Sebanyak 29% responden menunjukkan keinginan untuk meningkatkan kepemilikan euro dalam jangka panjang, naik dari 22% tahun lalu. Utang internasional dalam denominasi euro mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025 dan euro menjadi mata uang utama dalam obligasi hijau. Permintaan akan mata uang alternatif, termasuk dolar Singapura, won Korea Selatan, dan rand Afrika Selatan, juga meningkat.

Kondisi ini menunjukkan perubahan dalam strategi investasi bank sentral di seluruh dunia. Mereka mulai mencari alternatif yang lebih stabil dan diversifikasi untuk portofolio mereka. Dengan meningkatnya ketidakpastian geopolitik, bank sentral harus siap menghadapi perubahan yang terjadi di pasar keuangan global.

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia usaha telah menghadapi berbagai tekanan, mulai dari ketidakpastian geopolitik, inflasi global, fluktuasi nilai tukar, percepatan transformasi digital, hingga perubahan perilaku konsumen yang semakin kompleks. Di tengah tantangan yang datang silih berganti, korporasi harus menjalankan strategi untuk tidak hanya bertahan, melainkan juga tumbuh.

BCA telah menempatkan diri sebagai emiten terunggul di ajang Bisnis Indonesia Awards (BIA) 2026 untuk kategori bank swasta dengan aset di atas Rp100 triliun. Penghargaan ini diberikan kepada BCA karena kinerja yang terus tumbuh dalam kurun periode pengukuran pada 2023, 2024, dan 2025. BCA mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 10% menjadi Rp2,8 triliun, didukung oleh peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 7% serta beban operasional yang stabil dan efisien.

Citi Indonesia juga memenangkan tiga penghargaan bergengsi FinanceAsia Awards 2026, yaitu sebagai ‘International – Best Bank’, ‘International – Best Bank for Large Corp & MNCs’, dan ‘International – Best Bank for Public Sector Clients’. Penghargaan ini mencerminkan kinerja mumpuni Citi Indonesia sepanjang 2025 yang diakui oleh dewan juri di FinanceAsia.

Dalam beberapa tahun terakhir, Citi Indonesia telah membuktikan diri sebagai salah satu bank institusional global terdepan di Indonesia, didukung oleh sinergi dari jaringan global yang terdepan serta keahlian, inovasi, dan transaksi signifikan yang memberikan hasil yang luar biasa bagi perusahaan multinasional, domestik besar, serta klien sektor publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *