Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 19 Mei 2026 | Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup menghijau pada perdagangan saham Senin, 18 Mei 2026, di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah. Kenaikan harga saham BBCA terjadi di tengah kelesuan IHSG.
Mengutip data RTI, harga saham BBCA ditutup naik 0,41% menjadi Rp 6.125 per saham. Harga saham BBCA sempat berada di zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini. Saham BBCA dibuka turun 150 poin menjadi Rp 5.950 per saham dari penutupan pekan lalu Rp 6.100 per saham.
Di sisi lain, bank sentral di seluruh dunia diharapkan untuk meningkatkan pembelian emas, membantu harga emas pulih pada akhir tahun. Pembelian emas oleh bank sentral diperkirakan akan meningkat menjadi rata-rata 60 ton per bulan pada tahun 2026.
Mata uang Asia melemah terhadap dolar AS karena harga minyak meningkat. Beberapa mata uang utama Asia, termasuk rupee India, rupiah Indonesia, baht Thailand, dan peso Filipina, telah jatuh ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir terhadap dolar AS.
Rupiah Indonesia telah mencapai rekor terendah baru pada Senin, 18 Mei 2026, karena harga minyak dunia meningkat dan indeks saham utama Indonesia jatuh. Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan bahwa perekonomian negara tersebut kuat dan melemahnya rupiah tidak akan mempengaruhi masyarakat pedesaan karena mereka tidak menggunakan dolar AS.
Kesimpulan, situasi ekonomi global yang tidak pasti dan harga minyak yang meningkat telah mempengaruhi kinerja saham dan mata uang di Asia, termasuk Bank Central Asia dan rupiah Indonesia. Namun, dengan strategi yang tepat dan kebijakan moneter yang efektif, diharapkan perekonomian dapat pulih dan stabil pada akhir tahun.











