Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 14 April 2026 | PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau lebih dikenal dengan Antam terus menegaskan ambisinya untuk mencetak rekor penjualan emas tertinggi sepanjang masa pada tahun 2026. Langkah strategis tersebut diiringi dengan proyeksi pertumbuhan laba bersih sebesar 18,3 % dibandingkan tahun 2025, menurut riset terbaru dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Target penjualan emas yang disebut sebagai all‑time‑high (ATH) didukung oleh program diversifikasi komoditas serta proyek strategis yang tengah dikembangkan. Salah satu inisiatif utama adalah Project Dragon, sebuah ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) senilai US$16 miliar yang melibatkan konsorsium Antam‑IBC‑CBL. Meskipun fokus utama proyek adalah nikel, dampak positifnya terhadap arus kas perusahaan diyakini dapat menambah daya beli konsumen emas di pasar domestik.
Data kuartal IV/2025 menunjukkan pendapatan total Antam sebesar Rp12,6 triliun, turun 3 % secara kuartalan dan 51,5 % secara tahunan. Penurunan ini terutama dipicu oleh penurunan volume penjualan emas menjadi 104,2 kiloz (koz), turun 33,3 % QoQ. Namun, rata‑rata harga jual (ASP) emas tetap kuat di US$4.491 per ons, naik 29,3 % YoY, sehingga segmen emas masih menyumbang pendapatan sebesar Rp7,8 triliun.
Sementara segmen nikel mencatat kenaikan signifikan, dengan pendapatan Rp3,2 triliun, melonjak 72,2 % YoY berkat permintaan global yang terus meningkat. EBITDA perusahaan mencatat Rp807 miliar (-63,6 % QoQ) dan EBIT Rp507 miliar (-71,0 % QoQ), tertekan oleh biaya regulasi sebesar Rp1,1 triliun.
Berikut ringkasan proyeksi keuangan Antam untuk tahun 2026:
| Item | 2025 (Realisasi) | 2026 (Proyeksi) |
|---|---|---|
| Pendapatan | Rp12,6 triliun | Rp13,5 triliun |
| Laba Bersih | Rp1,23 triliun | Rp8,5 triliun |
| Volume Penjualan Emas | 104,2 koz | ≈125 koz |
| Harga Jual Emas (ASP) | US$4.491/oz | US$4.800/oz |
| Produksi Nikel | ≈15 juta wmt | ≈15,8 juta wmt |
Proyeksi laba bersih sebesar Rp8,5 triliun didukung oleh tiga pilar utama: (1) volume produksi nikel yang diperkirakan tumbuh sekitar 5 % per tahun berkat kuota RKAB sekitar 18,1 juta wmt; (2) penjualan emas yang stabil pada level 37,4 ton per tahun, memberikan basis pendapatan yang resilient; (3) kontribusi hilirisasi bauksit dari proyek Mempawah yang dijadwalkan mulai masuk pada semester kedua 2026 dengan target 3‑3,5 juta wmt.
Analisis Mirae Asset menilai bahwa harga emas dunia tetap menjadi pendorong utama laba, sementara perbaikan volume penjualan diperkirakan akan terjadi seiring meredanya kendala pasokan. Di sisi lain, risiko volatilitas harga emas internasional serta potensi perubahan regulasi pada sektor nikel tetap menjadi perhatian bagi investor.
Secara keseluruhan, diversifikasi komoditas Antam—dari emas, nikel, hingga bauksit—bersama dengan margin yang relatif stabil, memberikan landasan kuat bagi prospek jangka menengah perusahaan. Target harga saham sebesar Rp4.300 per lembar mencerminkan price‑to‑earning ratio (PER) sekitar 12,1 kali untuk tahun 2026, menandakan valuasi yang masih menarik bagi pasar.
Dengan kombinasi ambisi penjualan emas ATH, proyek baterai EV berskala global, dan peningkatan profitabilitas nikel, Antam berada pada posisi yang menguntungkan untuk menavigasi tantangan pasar komoditas serta mengoptimalkan pertumbuhan nilai pemegang saham pada tahun mendatang.











