Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 29 Mei 2026 | Kenaikan BI Rate oleh Bank Indonesia telah memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat. Dengan kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, cicilan kredit diprediksi akan lebih mahal. Hal ini karena kenaikan suku bunga akan mempengaruhi biaya kredit dan membuatnya lebih mahal bagi masyarakat.
Menurut analisis, keputusan Bank Indonesia untuk menaikkan BI Rate ini merupakan langkah untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah tekanan pada rupiah. Namun, keputusan ini juga menimbulkan dilema bagi Bank Indonesia karena harus menyeimbangkan antara menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Sejak September 2025, Bank Indonesia telah mempertahankan BI Rate pada level 4,75 persen untuk mendukung ekspansi ekonomi. Namun, situasi ini telah berubah dengan cepat karena meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan yield obligasi AS dan membuat investor beralih ke aset safe-haven.
Indonesia menjadi semakin rentan terhadap perubahan ini, terutama karena pertumbuhan ekonomi yang sangat bergantung pada belanja pemerintah daripada aktivitas sektor swasta. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang keberlanjutan fiskal, terutama karena program-program andalan pemerintah yang besar membutuhkan sumber daya negara yang signifikan.
Bank Indonesia telah mengambil langkah-langkah untuk menarik arus modal asing dengan menaikkan imbal hasil surat utang negara. Namun, biaya stabilisasi ini semakin terlihat. Cadangan devisa Indonesia telah menurun sekitar 10 miliar dolar AS antara Desember 2025 dan April 2026, turun menjadi 146,2 miliar dolar AS.
Meskipun cadangan devisa masih di atas standar kecukupan internasional, intervensi terus-menerus dapat mengerosi buffer ini jika tekanan pada rupiah berlanjut. Bank Indonesia terus mempertahankan pertumbuhan uang dasar di atas 10 persen, yang tampaknya tidak konsisten dengan upaya stabilisasi.
Di tengah tekanan ini, Bank Indonesia harus menyeimbangkan kebijakan moneter untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas makroekonomi. Kenaikan BI Rate ini merupakan langkah untuk menjaga stabilitas, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran tentang dampaknya terhadap perekonomian.
Kesimpulan, kenaikan BI Rate oleh Bank Indonesia memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Dengan kenaikan suku bunga, cicilan kredit diprediksi akan lebih mahal, dan ini dapat mempengaruhi daya beli masyarakat. Namun, keputusan ini juga merupakan langkah untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah tekanan pada rupiah.











