Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 22 April 2026 | Beragam perusahaan publik di Indonesia kini berbondong‑bongkar rights issue untuk menambah modal, memperluas jaringan bisnis, serta mengakuisisi aset strategis. Langkah ini tidak hanya menjadi alternatif pendanaan yang lebih cepat, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pemegang saham lama untuk mempertahankan kepemilikan mereka.
PT Multitrend Indo Tbk (BABY) menjadi contoh nyata. Perusahaan yang dikenal dengan jaringan gerai perlengkapan bayi ini mengumumkan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebanyak 238.599.876 saham baru dengan harga pelaksanaan Rp590 per saham. Jika seluruh hak dilaksanakan, BABY dapat mengumpulkan dana segar sekitar Rp140,77 miliar. Sebagian besar dana, tepatnya 92,35 %, akan dialokasikan untuk akuisisi PT Emway Globalindo, sementara sisanya menjadi modal kerja.
Jadwal pelaksanaan rights issue BABY sudah ditetapkan secara rinci, mulai dari tanggal efektif 16 April 2026, perdagangan di pasar reguler pada 24‑27 April, periode pelaksanaan 30 April‑7 Mei, hingga penjatahan pada 12 Mei. Langkah tersebut berhasil mendorong pergerakan saham intraday pada 21 April, di mana harga naik 24,43 % menjadi Rp326.
Di sektor pertambangan, PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) menggelar RUPSLB pada 21 April 2026 untuk meminta persetujuan rights issue yang akan mendanai integrasi aset tambang batu bara di Mongolia. Target investasi mencapai USD150 juta atau sekitar Rp2,5 triliun, meliputi dua konsesi tambang batu bara dan semi‑soft coking coal. Skema rights issue ini menjadi bagian penting dalam strategi ekspansi NINE, yang menunggu persetujuan investasi luar negeri (ODI) dari otoritas Tiongkok.
Sementara itu, PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO), produsen cokelat terkemuka, juga berhasil memperoleh persetujuan rights issue dalam RUPS pada 17 April 2026. Perusahaan berencana menerbitkan lebih dari 10,6 miliar saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu, serta waran tambahan hingga 35 % dari total saham beredar. Dana yang terkumpul akan diarahkan untuk akuisisi, belanja modal, dan mendukung target pertumbuhan penjualan serta laba sebesar 20 % pada tahun 2026.
Berikut rangkuman utama rights issue tiga emiten tersebut:
| Emiten | Jumlah Saham Baru | Harga HMETD | Target Dana | Tujuan Penggunaan |
|---|---|---|---|---|
| BABY | 238.599.876 | Rp590 | Rp140,77 miliar | Akusisi Emway Globalindo & modal kerja |
| NINE | — (PMHMETD) | — (indikatif USD150 juta) | ≈Rp2,5 triliun | Integrasi tambang Mongolia |
| COCO | 10.678.365.882 | — (menyesuaikan) | — (belum diumumkan) | Akusisi, belanja modal, ekspansi penjualan |
Keunggulan rights issue dibandingkan pendanaan tradisional meliputi:
- Partisipasi Pemegang Saham Lama: Pemegang saham memiliki hak prioritas, sehingga dapat mempertahankan proporsi kepemilikan.
- Biaya Emisi Lebih Rendah: Tanpa harus mengeluarkan biaya underwriting yang tinggi seperti pada penawaran umum saham baru (IPO).
- Proses Cepat: Jadwal pelaksanaan yang terstruktur memungkinkan pencairan dana dalam hitungan minggu.
- Penguatan Neraca: Tambahan modal meningkatkan ekuitas, menurunkan rasio utang‑to‑equity, dan meningkatkan rating kredit.
- Fleksibilitas Penggunaan Dana: Perusahaan dapat mengalokasikan dana untuk ekspansi, akuisisi, atau modal kerja sesuai strategi bisnis.
Strategi rights issue kini menjadi pilihan utama bagi emiten yang ingin memperkuat struktur permodalan tanpa mengorbankan likuiditas pasar. Dengan dukungan regulasi OJK yang memberikan panduan jelas, proses HMETD/PMHMETD dapat dilaksanakan secara transparan, memberikan rasa aman bagi investor institusional maupun ritel.
Secara keseluruhan, gerakan rights issue yang digerakkan oleh BABY, NINE, dan COCO menandai tren positif dalam upaya perusahaan Indonesia memperkuat fondasi keuangan untuk pertumbuhan jangka panjang. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan pasar, memperluas basis investor, dan mempercepat realisasi rencana ekspansi masing‑masing perusahaan.











