Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 19 April 2026 | Jakarta, 19 April 2026 – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menegaskan penolakannya atas ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz kembali, menyatakan bahwa tindakan tersebut akan mengancam stabilitas energi regional dan menambah ketegangan dalam konflik antara Amerika Serikat dan Tehran.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada Rabu (18/4/2026), pemerintah Indonesia menilai bahwa penutupan jalur laut strategis itu tidak dapat dibenarkan karena akan merugikan kepentingan perdagangan internasional, khususnya negara‑negara pengekspor dan importir minyak serta gas. Retno menambahkan bahwa Indonesia akan terus mendukung upaya diplomasi multilateral untuk menurunkan risiko konfrontasi militer di kawasan tersebut.
Situasi di Selat Hormuz semakin memanas sejak Iran kembali mengumumkan penutupan jalur tersebut pada Sabtu (18/4/2026). Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa penutupan akan berlanjut hingga Amerika Serikat mengakhiri blokade terhadap pelabuhan Iran. Pernyataan itu muncul tak lama setelah dua kapal berbendera India dilaporkan diserang oleh Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC Navy) saat melintasi selat, meskipun tidak ada korban jiwa dan kerusakan signifikan.
Insiden penembakan tersebut memicu protes diplomatik dari New Delhi, yang menuntut Iran membuka kembali akses pelayaran. Sumber di Kementerian Luar Negeri India menyatakan bahwa kedutaan Iran di New Delhi telah dipanggil untuk menyampaikan “keprihatinan mendalam” terkait tindakan militer yang dianggap melanggar hukum internasional.
Di sisi lain, Pakistan berperan sebagai mediator penting dalam meredam ketegangan. Kepala Staf Militer Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, menyelesaikan kunjungan tiga hari ke Tehran dan bertemu dengan pemimpin tertinggi Iran serta negosiator perdamaian. Pemerintah Pakistan, melalui Perdana Menteri Shehbaz Sharif, juga menggelar pertemuan dengan pejabat Amerika Serikat di Islamabad, menjelang putaran kedua pembicaraan yang dijadwalkan pekan depan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam wawancara singkat di dalam pesawat Air Force One, mengindikasikan kemungkinan mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran jika tidak tercapai kesepakatan damai. Meski demikian, ia tetap optimis bahwa perundingan dapat menghasilkan solusi dalam waktu dekat, sekaligus menegaskan bahwa gencatan senjata yang sedang berlangsung akan berakhir pada Rabu mendatang.
Sementara itu, Australia menyambut baik keputusan Iran untuk menghentikan pemblokiran Selat Hormuz pada awal minggu ini, namun tetap menilai situasi tetap rapuh. Perdana Menteri Anthony Albanese menekankan bahwa dampak ekonomi dan keamanan energi akan dirasakan secara global, terutama bagi negara‑negara yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Teluk Persia.
Iran juga kembali membuka sebagian wilayah udaranya untuk penerbangan internasional, sebagaimana dikutip dari AFP. Otoritas Penerbangan Sipil Iran menyatakan bahwa rute udara di wilayah timur kini dapat dilintasi, dan sejumlah bandara kembali beroperasi sejak pukul 07.00 waktu setempat. Namun, penutupan Selat Hormuz tetap menjadi alat tawar politik Tehran dalam negosiasi dengan Amerika Serikat.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat menambah tekanan pada harga minyak dunia. Pada awal minggu ini, harga Brent turun setelah Iran mengumumkan pembukaan kembali jalur pelayaran, namun kembali naik setelah ancaman penutupan diumumkan kembali. Dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh produsen minyak, tetapi juga oleh negara‑negara pengimpor seperti Indonesia yang mengandalkan impor energi untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Indonesia, sebagai anggota G20 dan negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, menegaskan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di selat‑selat internasional. Retno Marsudi menambahkan bahwa “Indonesia siap berperan aktif dalam forum‑forum internasional untuk memastikan jalur perdagangan laut tetap terbuka, aman, dan bebas dari intimidasi politik”.
Kesimpulannya, ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz kembali menambah dimensi baru dalam konflik geopolitik antara Tehran dan Washington. Indonesia, bersama dengan Pakistan, India, dan negara‑negara lain, menekankan diplomasi sebagai jalan utama untuk menghindari eskalasi militer yang dapat mengguncang pasar energi global.











