BERITA

Menghitung Hari Raya Idul Adha dan Menelusuri Jejak Yasinta Moiwend di Jakarta

×

Menghitung Hari Raya Idul Adha dan Menelusuri Jejak Yasinta Moiwend di Jakarta

Share this article
Menghitung Hari Raya Idul Adha dan Menelusuri Jejak Yasinta Moiwend di Jakarta
Menghitung Hari Raya Idul Adha dan Menelusuri Jejak Yasinta Moiwend di Jakarta

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 12 Juni 2026 | Idul Adha merupakan salah satu hari raya terbesar dalam kalender Islam, dirayakan untuk memperingati kesabaran dan ketaatan Nabi Ibrahim AS. Biasanya, Idul Adha jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah. Namun, untuk mengetahui berapa hari lagi Idul Adha, perlu diperhatikan perbedaan antara kalender Hijriah dan kalender Masehi yang digunakan sehari-hari.

Sementara itu, di Jakarta, terdapat sebuah kisah menarik tentang Yasinta Moiwend, seorang perempuan dari komunitas adat Marind-Anim yang menentang ‘perampasan tanah adat’ untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke. Yasinta pergi tanpa pesan dari rumahnya dan baru diketahui keberadaannya melalui video yang beredar di media sosial. Dalam video tersebut, Yasinta muncul bersama beberapa orang, termasuk advokat dan seorang perempuan asli Papua.

Menurut informasi, Yasinta sempat pergi ke sebuah gereja dan makan di kantin pinggir jalan di kawasan elite Menteng, Jakarta. Selama di Jakarta, Yasinta bertemu dengan tiga advokat dan seorang perempuan asli Papua yang berasal dari Kabupaten Mimika. Dua dari empat orang tersebut diduga memiliki rekam jejak digital dan hubungan samar dengan Badan Intelijen Negara (BIN).

Perlu diingat bahwa Idul Adha dirayakan untuk memperingati kesabaran dan ketaatan, serta pentingnya berbagi dengan orang lain. Sementara itu, kisah Yasinta Moiwend menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu diperhatikan dan diselesaikan dalam masyarakat, terutama dalam hal perlindungan hak-hak masyarakat adat.

Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat Indonesia juga dihadapkan pada berbagai isu ekonomi, termasuk inflasi dan pengembangan sistem pembayaran digital. Bank Indonesia (BI) telah menunjukkan berbagai capaian positif, terutama dalam pengendalian inflasi daerah dan pengembangan sistem pembayaran digital melalui QRIS.

Namun, masih banyak tantangan yang perlu dihadapi, termasuk rendahnya nilai tambah komoditas dan lemahnya daya saing UMKM. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan meningkatkan kemampuan ekonomi negara.

Idul Adha merupakan momentum yang tepat untuk merefleksikan kembali nilai-nilai kesabaran, ketaatan, dan berbagi. Dalam konteks yang lebih luas, perlu diingat bahwa masih banyak hal yang perlu diperhatikan dan diselesaikan dalam masyarakat, terutama dalam hal perlindungan hak-hak masyarakat adat dan pengembangan ekonomi yang berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *