Internasional

Krisis Migrasi di Ceuta: Warga Turun ke Jalan, Desak Pemerintah Spanyol Bertindak

×

Krisis Migrasi di Ceuta: Warga Turun ke Jalan, Desak Pemerintah Spanyol Bertindak

Share this article
Krisis Migrasi di Ceuta: Warga Turun ke Jalan, Desak Pemerintah Spanyol Bertindak
Krisis Migrasi di Ceuta: Warga Turun ke Jalan, Desak Pemerintah Spanyol Bertindak

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 11 Agustus 2026 | Ribuan warga Ceuta, Spanyol, turun ke jalan pada Minggu, 9 Agustus 2026, untuk memprotes pemerintah Spanyol agar lebih serius dalam menangani krisis migrasi usai masuknya ribuan imigran Maroko pekan lalu. Pada 30 Juli 2026, sekitar 78 ribu imigran Maroko berbondong-bondong masuk secara ilegal ke Ceuta.

Demonstrasi ini dihadiri oleh lebih dari 15 ribu warga Ceuta yang diprakarsai oleh Four Cultures, organisasi empat agama utama di Ceuta. Diketahui ribuan warga yang menganut agama Kristen, Islam, Hindu, dan Yahudi hadir dalam aksi ini.

Demonstran membawa bendera Spanyol dan wilayah otonom tersebut untuk menunjukkan bahwa Ceuta tetap milik Spanyol. Four Cultures mengaku ingin menjadi bagian dari solusi dari krisis migrasi di Ceuta. Organisasi itu juga menyerukan persatuan dari seluruh warga Ceuta dan tidak memandang kepercayaan, budaya, asal usul, dan tradisi.

Presiden Ceuta, Juan Jesus Vivas, meminta sumber daya dan personel keamanan tambahan terkait lebih dari 1.300 imigran anak, sementara Menteri Sira Rego menekankan perlindungan serta penilaian tiap anak.

Krisis migrasi di Ceuta memuncak sejak akhir Juli lalu, saat gelombang kedatangan migran tak terdokumentasi menembus benteng perbatasan. Dalam rentang waktu satu hari, sekitar 60.000 orang dilaporkan menyeberang ke Ceuta, angka yang terbilang sangat masif bagi kota berpendapatan terbatas dengan populasi sekitar 85.000 jiwa tersebut.

Lompatan angka migrasi yang ekstrem ini memicu reaksi keras di tingkat internasional. Sejumlah negara anggota Uni Eropa (UE), termasuk Denmark, Italia, Republik Ceko, dan Finlandia, menyerukan penangguhan sementara keanggotaan Spanyol dari Kawasan Schengen.

Sementara itu, Wali Kota Ceuta, Juan Jesus Vivas, mengungkapkan bahwa jumlah imigran asal Maroko yang masih bertahan di wilayah kantong Spanyol tersebut jauh lebih besar daripada data yang dirilis oleh Pemerintah Pusat Spanyol. Vivas menyebut angka imigran tanpa dokumen di wilayahnya saat ini diperkirakan mencapai 11.000 orang.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menegaskan kesiapannya menghadapi potensi gelombang baru imigran ilegal dari Maroko yang diperkirakan akan berupaya memasuki wilayah Ceuta. Spanyol mengerahkan sekitar 300 personel polisi antihuru-hara dan 2.000 tentara di wilayah kantong (enklave) Ceuta untuk mencegah masuknya migran secara besar-besaran kembali terjadi.

Kesimpulan, krisis migrasi di Ceuta masih menjadi isu yang hangat dan membutuhkan penanganan yang serius dari pemerintah Spanyol dan Uni Eropa. Warga Ceuta turun ke jalan untuk memprotes dan menuntut solusi dari krisis migrasi ini. Jumlah imigran yang masih bertahan di Ceuta diperkirakan mencapai 11.000 orang, dan pemerintah Spanyol harus segera mengambil tindakan untuk menangani krisis ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *