Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 16 Agustus 2026 | Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mengusulkan pembicaraan dengan Korea Utara untuk secara resmi mengakhiri Perang Korea yang telah berlangsung lama. Lee berniat menggantikan perjanjian gencatan senjata di Semenanjung Korea dengan sebuah “rezim perdamaian”.
Diketahui bahwa kedua Korea secara teknis masih dalam keadaan perang, karena konflik yang berlangsung pada tahun 1950-1953 silam diakhiri dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Lee menyampaikan usulan dialog tersebut dalam pidatonya saat upacara peringatan 81 tahun kemerdekaan atau pembebasan Korea dari penjajahan Jepang, yang diperingati setiap tanggal 15 Agustus di negara tersebut.
Lee menegaskan bahwa Seoul akan mengambil langkah-langkah proaktif dan berkelanjutan untuk meredakan ketegangan, dan membangun sistem pengamanan berlapis guna mencegah eskalasi. Usulan Lee ini sebagian besar didasarkan pada komitmennya tahun lalu untuk menghormati sistem pemerintahan Korut dan mengupayakan koeksistensi damai dengan Pyongyang.
Hubungan antara Korsel dan Korut saat ini masih membeku. Pemimpin Korut Kim Jong Un telah meninggalkan kebijakan reunifikasi dan melabeli Korsel sebagai negara yang paling bermusuhan, serta memerintahkan penguatan pertahanan di garis depan. Pyongyang menolak tawaran pendekatan dari Lee dan mengkritik rencana Seoul untuk memiliki kapal selam bertenaga nuklir.
Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyatakan keyakinannya bahwa kerja sama konstruktif Moskow dengan Korea Utara terkait agenda bilateral dan internasional saat ini akan terus berlanjut. Putin mengatakan hal itu dalam rangkaian ucapan selamat kepada pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, atas Hari Pembebasan Nasional Korea yang diperingati setiap tanggal 15 Agustus.
Sementara itu, di Korea Selatan, semakin banyak remaja yang memilih sekolah menengah kejuruan (SMK) khusus semikonduktor daripada melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Fenomena ini menunjukkan bahwa di era AI, keterampilan teknis yang langsung dapat diterapkan di industri sering kali lebih berharga daripada gelar sarjana.
Salah satu contoh nyata adalah No Jun-sik, yang telah mendapat tawaran pekerjaan dari Samsung saat masih berusia 17 tahun. Ia memilih masuk sekolah menengah kejuruan khusus semikonduktor dan sekarang bekerja di industri tersebut dengan gaji yang cukup tinggi.
Kesimpulan dari peristiwa ini adalah bahwa hubungan antara Korsel dan Korut masih kompleks dan memerlukan upaya untuk meredakan ketegangan. Usulan dialog dari Presiden Lee Jae-myung dapat menjadi langkah awal untuk mencapai perdamaian di Semenanjung Korea. Sementara itu, fenomena remaja Korsel yang memilih sekolah menengah kejuruan khusus semikonduktor menunjukkan bahwa keterampilan teknis yang langsung dapat diterapkan di industri sering kali lebih berharga daripada gelar sarjana.











