Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 04 Mei 2026 | Serangan udara Israel yang dilancarkan pada akhir pekan lalu di wilayah Lebanon selatan kembali memicu kecaman internasional setelah menewaskan enam warga sipil secara langsung. Operasi tersebut, yang diklaim oleh militer Israel sebagai bagian dari aksi melawan kelompok Hizbullah, menambah daftar korban sejak pelanggaran gencatan senjata pada pertengahan Maret 2026.
Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan Lebanon, jumlah total korban tewas sejak awal konflik kini telah melampaui 2.600 jiwa, dengan lebih dari 8.000 orang terluka. Angka ini mencerminkan akumulasi serangkaian serangan yang terjadi dalam rentang waktu singkat, termasuk pengeboman di kota Chihine, serangan di distrik al‑Tuffah, serta ledakan yang terdengar di Ar‑Rayhan. Pada Sabtu, serangan tambahan menambah 41 insiden dalam 24 jam terakhir, meningkatkan intensitas konflik secara signifikan.
Militer Israel mengeluarkan peringatan baru pada Ahad, mengancam akan menyerang dua belas kota dan desa di wilayah selatan Lebanon. Daftar target meliputi al‑Duwayr, Arab Salim, al‑Sharqiya (Nabatieh), Jibshit, Braashit, Sarafand, Dounin, Briqa, Qaaqaiya al‑Jisr, al‑Qasiba (Nabatieh), dan Kfar Sir. Penduduk di daerah‑daerah tersebut diperintahkan untuk mengungsi setidaknya sejauh 1.000 meter ke wilayah terbuka demi menghindari bahaya lebih lanjut.
Serangan tersebut menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya gelombang pengungsian baru. Masyarakat Lebanon selatan, yang telah hidup dalam ketakutan selama lebih dari dua minggu, kini menghadapi risiko kehilangan tempat tinggal, fasilitas kesehatan, dan sumber mata pencaharian. Banyak keluarga terpaksa meninggalkan rumah dengan barang terbatas, sementara jaringan bantuan kemanusiaan berusaha menyiapkan tempat penampungan sementara.
- Al‑Duwayr – Desa pertanian utama yang menjadi sasaran pertama peringatan militer.
- Arab Salim – Kota kecil dengan populasi mayoritas Kristen, kini menjadi zona evakuasi.
- Al‑Sharqiya (Nabatieh) – Pusat administratif yang mengalami kerusakan infrastruktur signifikan.
- Jibshit – Lokasi strategis dekat perbatasan, menjadi titik pengawasan militer Israel.
- Braashit – Desa yang melaporkan serangan drone pada sore hari.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat bahwa sebagian besar korban tewas adalah warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak. Laporan medis menegaskan bahwa luka-luka yang diderita meliputi trauma kepala, luka bakar, serta kerusakan organ akibat ledakan. Rumah sakit di Beirut dan wilayah selatan bekerja lembur untuk menangani lonjakan pasien, sementara bantuan internasional berusaha mengirimkan perbekalan medis tambahan.
Pihak Israel menegaskan bahwa operasi militer ini ditujukan untuk menetralkan kemampuan militer Hizbullah, yang dalam beberapa minggu terakhir mengirimkan sejumlah drone dan misil ke wilayah perbatasan. Namun, serangan yang menargetkan area pemukiman sipil menimbulkan pertanyaan tentang proporsionalitas dan kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional.
Komunitas internasional, termasuk PBB dan Uni Eropa, menyerukan penarikan segera semua pihak dari aksi kekerasan dan memulai dialog damai. Sementara itu, pernyataan resmi dari pemerintah Lebanon menuntut penghentian serangan dan menegaskan hak negara untuk mempertahankan kedaulatan wilayahnya.
Ketegangan di perbatasan terus memuncak, dengan laporan pengintaian menunjukkan pergerakan kendaraan militer Israel di wilayah Galilea Utara. Penduduk setempat melaporkan suara tembakan dan ledakan yang terdengar hingga jarak beberapa kilometer, menambah rasa takut dan ketidakpastian.
Dengan total korban yang terus meningkat, situasi di Lebanon selatan berada pada titik kritis. Upaya diplomatik masih berlangsung, namun tekanan di lapangan menunjukkan bahwa solusi jangka pendek belum terlihat. Kemanusiaan di wilayah tersebut semakin memprihatinkan, menuntut respons cepat dari pihak-pihak terkait untuk menghentikan penderitaan warga sipil.











