Internasional

Israel Akui Rusak Biara Katolik di Lebanon Selatan, Pecah Kontroversi Internasional

×

Israel Akui Rusak Biara Katolik di Lebanon Selatan, Pecah Kontroversi Internasional

Share this article
Israel Akui Rusak Biara Katolik di Lebanon Selatan, Pecah Kontroversi Internasional
Israel Akui Rusak Biara Katolik di Lebanon Selatan, Pecah Kontroversi Internasional

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 04 Mei 2026 | Militer Israel pada Sabtu (2/5/2026) mengakui bahwa pasukannya telah merusak sebuah biara Katolik di desa Yaroun, selatan Lebanon, dalam operasi yang menargetkan infrastruktur yang diduga milik kelompok Hizbullah. Pengakuan ini muncul setelah gambar bangunan yang hancur tersebar luas di media sosial, memicu kecaman keras dari berbagai organisasi kemanusiaan dan gereja setempat.

Juru bicara Angkatan Darat Israel, Kolonel Avichay Adraee, menjelaskan bahwa kerusakan terjadi karena biara tersebut digunakan sebagai pangkalan peluncuran roket oleh Hizbullah. Menurutnya, tidak ada tanda khusus yang menunjukkan fungsi keagamaan pada struktur itu, sehingga pasukan menganggapnya sebagai sasaran militer sah dalam rangka menghentikan serangan roket lintas perbatasan.

Pihak Gereja Katolik Lebanon menolak keras tuduhan tersebut. Gladys Sabbagh, pimpinan umum Ordo Suster Salvatorian yang mengelola biara, menyatakan bahwa kompleks tersebut berfungsi sebagai pusat pendidikan, sekolah, dan klinik bagi warga setempat, serta tidak pernah dijadikan tempat militer. Direktur Pusat Informasi Katolik, Romo Abdo Abou Kassm, menambahkan bahwa biara telah dikosongkan setelah para biarawati mengungsi akibat konflik, namun tetap menjadi simbol perdamaian dan pelayanan sosial.

  • L’Oeuvre d’Orient, badan amal Katolik asal Prancis, menyebut tindakan Israel sebagai serangan yang disengaja terhadap tempat ibadah.
  • Organisasi tersebut menuduh Israel melakukan penghancuran sistematis untuk menghalangi warga kembali ke rumah mereka.
  • Penegasan Gereja Katolik menegaskan bahwa tidak ada bukti penggunaan fasilitas keagamaan untuk tujuan militer.

Insiden ini menyusul kasus lain yang melibatkan tentara Israel. Dua prajurit baru-baru ini dijatuhi hukuman penjara 30 hari setelah terbukti merusak patung Yesus di desa Debl dengan palu godam. Aksi vandalisme itu memicu gelombang kecaman internasional dan menambah citra negatif militer Israel di mata komunitas Kristen.

Serangan udara Israel pada hari yang sama juga menewaskan setidaknya tujuh warga sipil di beberapa desa Lebanon selatan, termasuk Kfar Dajal, Lwaizeh, dan Shoukin. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, ribuan korban luka dan kematian telah tercatat sejak eskalasi terbaru konflik, menambah tekanan kemanusiaan di wilayah yang sudah rapuh.

Laporan dari Pusat Pendidikan dan Dialog Rossing mencatat peningkatan signifikan kekerasan terhadap komunitas Kristen di wilayah Israel dan Palestina yang diduduki, dengan 155 insiden intimidasi dan agresi yang dilaporkan pada tahun 2025. Data tersebut menyoroti pola ancaman yang semakin intensif terhadap minoritas agama dalam konteks konflik yang terus berlanjut.

Komunitas internasional, termasuk negara-negara Eropa dan badan PBB, menyerukan penyelidikan independen atas peristiwa penghancuran biara dan serangan sipil lainnya. Pihak berwenang Lebanon menuntut Israel menghentikan operasi militer yang mengancam situs keagamaan dan sipil, serta menegaskan pentingnya mematuhi hukum humaniter internasional.

Pengakuan Israel atas kerusakan biara Katolik di Yaroun menandai titik baru dalam dinamika konflik Israel‑Hizbullah, menggarisbawahi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara keamanan nasional dan perlindungan warisan budaya serta kebebasan beragama. Situasi yang terus memanas menuntut dialog konstruktif dan upaya bersama untuk melindungi tempat ibadah serta mencegah eskalasi lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *